Kamis, 18 Januari 2018

Efek Kultur Budaya Suatu Negara Terhadap Produktivitas Kerja

1.1       LATAR BELAKANG

Setiap perusahaan selalu berusaha meningkatkan produktivitas karyawannya agar dapat bertahan, berkembang serta memiliki kepercayaan yang tinggi dari pihak luar perusahaan. Demi meningkatkan produktivitas karyawan, maka sering dilakukan pembenahan dan peningkatan sumber daya manusia dari karyawan.
Di era globalisasi dan perekonomian dunia yang pro pasar bebas (free market) dewasa ini, mulai tampak semakin jelas bahwa peranan non-human capital di dalam sistem perekonomian cenderung semakin berkurang. Para stakeholder yang bekerja di dalam sistem perekonomian semakin yakin bahwa modal tidak hanya berwujud alat-alat produksi seperti tanah, pabrik, alat-alat, dan mesin-mesin, akan tetapi juga berupa human capital. Sistem perekonomian dewasa ini mulai didominasi oleh peranan human capital, yaitu ‘pengetahuan’ dan ‘ketrampilan’ manusia.
Namun seringkali kegiatan peningkatan sumber daya manusia dari karyawan tidak mencapai hal yang diharapkan yaitu tercapainya tujuan dari organisasi perusahaan tersebut seperti peningkatan produktivitas kerja karyawan. Meskipun telah memiliki sumber daya yang berkualitas, karyawan belum tentu dapat memberikan hasil kerja yang baik bagi organisasi perusahaan apabila mereka masih berada dalam belenggu budaya kerja yang kurang mendukung dan tidak kondusif. Karyawan akan larut dalam budaya organisasi perusahaan yang tidak mendukung terhadap tujuan organisasi perusahaan yaitu melenceng dari nilai-nilai organisasi perusahaan.
Produktivitas karyawan ditentukan oleh keberhasilan budaya organisasi perusahaan (corporate culture) yang dimilikinya. Keberhasilan mengelola organisasi tidak lagi hanya ditentukan oleh keberhasilan prinsip-prinsip manajemen seperti planning, organizing, leading, controlling; akan tetapi ada faktor lain yang lebih menentukan keberhasilan peusahaan mencapai tujuannya. Faktor tersebut adalah budaya organisasi perusahaan (corporate culture). Budaya organisasi perusahaan dapat membantu penerapan manajemen dengan baik.
Budaya perusahaan secara realistis mempengaruhi produktivitas kerja karyawan. Kesadaran pemimpin perusahaan ataupun karyawan terhadap pengaruh budaya organisasi perusahaan dapat memberikan semangat yang kuat untuk mempertahankan, memelihara, dan mengembangkan budaya organisasi perusahaan tersebut yang merupakan daya dorong yang kuat untuk kemajuan organisasi perusahaan.
1.2       PENGERTIAN PRODUKTIVITAS KERJA
Produktivitas kerja merupakan suatu konsep yang menunjukkan adanya kaitan output dengan input yang dibutuhkan seorang tenaga kerja untuk menghasilkan produk. Pengukuran produktivitas dilakukan dengan melihat jumlah output yang dihasilkan oleh setiap pegawai selama sebulan. Seorang pegawai dapat dikatakan produktiv apabila ia mampu menghasilkan jumlah produk yang lebih banyak dibandingkan dengan pegawai lain dalam waktu yang sama ( J. Ravianto, 1986 ).
Dapat dikatakan bahwa produktivitas adalah perbandingan antara hasil dari suatu pekerjaan karyawan dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sondang P. Siagian bahwa produktivitas adalah “Kemampuan memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari sarana dan prasarana yang tersedia dengan menghasilkan output yang optimal bahkan kalau mungkin yang maksimal”. Menurut Komarudin, “produktivitas pada hakekatnya meliputi sikap yang senantiasa mempunyai pandangan bahwa metode kerja hari ini harus lebih baik dari metode kerja kemarin dan hasil yang dapat diraih esok harus lebih banyak atau lebih bermutu daripada hasil yang diraih hari ini” (Komarudin,1992).
1.   Faktor  Yang  Mempengaruhi  Produktivitas Kerja
Sjahmien Moellfi (2003) menyatakan ada 3 faktor yang mempengaruhi produktivitas yaitu :
A.   Beban kerja
       Berhubungan langsung dengan beban fisik, mental maupun sosial yang mempengaruhi tenaga kerja sehingga upaya penempatan pekerja yang sesuai dengan kemampuannya perlu diperhatikan.
B.   Kapasitas kerja
       Kapasitas kerja adalah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan pekerjaannya pada waktu tertentu. Kapasitas kerja sangat bergantung pada jenis kelamin, pendidikan, ketrampilan, usia dan status gizi.

C.   Beban tambahan akibat lingkungan kerja
Lingkungan kerja yang buruk akan memberikan dampak yang buruk juga          berupa penurunan produktivitas kerja, antara lain:
Faktor fisik seperti panas, iklim kerja, kebisingan, pencahayaan, dangetaran.
Faktor kimia seperti bahan- bahan kimia, gas, uap, kabut, debu, partikel.
Faktor biologis seperti penyakit yang disebabkan infeksi, jamur, virus, dan parasit.
Fisiologis, letak kesesuaian ukuran tubuh tenaga kerja dengan peralatan, beban kerja, posisi dan cara kerja yang akan mempengaruhi produktivitas kerja.
Faktor psikologis, berupa kesesuaian antara hubungan kerja antar karyawan sendiri, karyawan atasan, suasana kerja yang kurang baik serta pekerjaan yang monoton.
1.4       PENGERTIAN BUDAYA ORGANISASI PERUSAHAAN (CORPORATE CULTURE)
Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari tidak terlepas dari ikatan budaya yang diciptakan. Ikatan budaya tercipta oleh masyarakat yang bersangkutan, baik dalam keluarga, organisasi, bisnis maupun bangsa. Budaya membedakan masyarakat satu dengan yang lain dalam cara berinteraksi dan bertindak menyelesaikan suatu pekerjaan. Budaya mengikat anggota kelompok masyarakat menjadi satu kesatuan pandangan yang menciptakan keseragaman berperilaku atau bertindak. Seiring dengan bergulirnya waktu, budaya pasti terbentuk dalam organisasi dan dapat pula dirasakan manfaatnya dalam memberi kontribusi bagi efektivitas organisasi secara keseluruhan. Budaya organisasi berkaitan erat dengan pemeberdayaan karyawan (employee empowerement) disuatu perusahaan. Semakin kuat budaya organisasi, semakin besar dorongan para karyawan untuk maju bersama dengan perusahaan. Berdasarkan hal tersebut, pengenalan, penciptaan, dan pengembangan budaya organisasi dalam suatu perusahaan mutlak diperlukan dalam rangka membangun perusahaan yang efektif dan efisien sesuai dengan misi dan visi yang hendak dicapai. Dengan demikian antara budaya organisasi dan budaya perusahaan saling terkait karena kedua-keduanya ada kesamaan, meskipun dalam budaya perusahaan terdapat hal-hal khusus seperi gaya manajemen dan sistem manajemen dan sebagainya, namun semuanya masih tetap dalam rangkaian budaya organisasi Budaya perusahaan adalah aturan main yang ada dalam perusahaan yang akan menjadi pegangan dari SDMnya dalam menjalankan kewajibannya dan nilai-nilai untuk berprilaku di dalam organisasi tersebut.
Ciri-ciri Budaya Organisasi
Menurut Robbins (1996), ada 7 ciri-ciri budaya organisasi adalah:
1. Inovasi dan pengambilan resiko. Sejauh mana karyawan didukung untuk menjadi inovatif dan mengambil resiko.
2. Perhatian terhadap detail. Sejauh mana karyawan diharapkan menunjukkan kecermatan, analisis dan perhatian terhadap detail.
3. Orientasi hasil. Sejauh mana manajemen memfokus pada hasil bukannya pada teknik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut.
4. Orientasi orang. Sejauh mana keputusan manajemen memperhitungkan efek pada orang-orang di dalam organisasi itu.
5. Orientasi tim. Sejauh mana kegiatan kerja diorganisasikan sekitar tim-tim, bukannya individu.
6. Keagresifan. Berkaitan dengan agresivitas karyawan.
7. Kemantapan. Organisasi menekankan dipertahankannya budaya organisasi yang sudah baik.
Dengan menilai organisasi itu berdasarkan tujuh karakteristik ini, akan diperoleh gambaran majemuk dari budaya organisasi itu. Gambaran ini menjadi dasar untuk perasaan pemahaman bersama yang dimiliki para anggota mengenai organisasi itu, bagaimana urusan diselesaikan di dalamnya, dan cara para anggota berperilaku (Robbins, 1996).
Fungsi Budaya Organisasi
Menurut Robbins (1996), fungsi budaya organisasi sebagai berikut :
a. Budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dan yang lain.
b. Budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi.
c. Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri individual seseorang.
d. Budaya merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang tepat untuk dilakukan oleh karyawan.
e. Budaya sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku karyawan.
1.5       PENGARUH BUDAYA ORGANISASI TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN
Budaya organisasi merupakan faktor yang sangat penting di dalam organisasi sehingga efektivitas organisasi dapat ditingkatkan dengan menciptakan budaya yang tepat dan dapat mendukung tercapainya tujuan organisasi. Pengaruh pemanfaatan budaya perusahaan adalah salah satu solusi dalam menghadapi tantangan yang kian kompleks. Bila budaya organisasi telah disepakati sebagai sebuah strategi perusahaan maka budaya organisasi dapat dijadikan alat untuk meningkatkan kinerja.
Dengan adanya pemberdayaan budaya organisasi selain akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, juga akan menjadi penentu sukses perusahaan. Sehingga budaya organisasi memiliki dampak yang berarti terhadap kinerja karyawan yang menentukan keberhasilan dan kegagalan perusahaan. Sedangkan kinerja merupakan peranan yang sangat penting, karena tanpanya organisasi hanya merupakan sekumpulan aktivitas tanpa tujuan atau control tertentu. Budaya organisasi dipahami sebagai seperangkat nilai, kepercayaan, dan pemahaman yang penting sama­ – sama dimiliki oleh para anggota yang berpengaruh terhadap pola kerja serta pola manajemen organisasi.
Secara teoritis budaya organisasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan, kinerja dalam hal ini diartikan sebagai suatu tingkat proses yang dirancang untuk menghubungkan tujuan organisasi dan tujuan individu sedemikian rupa, sehingga baik tujuan individu maupun tujuan organisasi dapat bertemu. Sedangkan kepuasan kerja dalam penelitian ini dianggap sebagai variabel yang sangat penting dalam hubungan dengan budaya organisasi, oleh karena itu kepuasan kerja diartikan sebagai cermin perasaan seseorang terhadap pekerjaannya mengenai selisih antara banyaknya ganjaran yang diterima dan banyaknya yang diyakini seharusnya diterima, serta segala sesuatu yang dihadapi dalam lingkungan kerja.


Kondisi Ekonomi, Politik, Sosial Singapura
Singapura merupakan salah satu negara anggota ASEAN yang terletak di Semenanjung Malaya. Singapura dibatasi oleh Selat Johor di sebelah utara yang memisahkannya dengan Malaysia, dan Selat Singapura di sebelah selatan yang membatasinya dengan Kepulauan Riau, Indonesia. Singapura merupakan negara bekas jajahan Inggris dan oleh karena itu, Singapura menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa mayoritasnya. Walaupun demikian, Singapura tetap menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa ibu atau bahasa nasionalnya. Singapura yang terletak di kawasan rumpun Melayu, kebanyakan warga negaranya malah merupakan masyarakat asing, terutama etnis Tionghoa, yang jumlahnya mencapai 42% dari jumlah total warga Singapura. Singapura dengan kondisi geografinya sebagai negara kecil yang bertempatan diantara Indonesia dan Malaysia ini memiliki potensial soft power (ekonomi maupun industri) yang sangat kuat bila dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Dari segi demografi atau penduduk yang berdomisili di Singapura, mayoritas merupakan etnis Cina yang kemudian diikuti oleh etnis Melayu. Kondisi perpolitikan Singapura mengadopsi sistem Westminster (seperti di Inggris), yang mana kekuasaan berdaulat terletak pada kabinet dan dipimpin oleh Perdana Menteri. Tatkala Singapura adalah negara berbentuk republik perlementer dan telah menetapkan perwakilan demokrasi sebagai sistem politik negara (Asean News Network, t.t).
Sejarah Singapura dimulai sejak tahun 1819 yakni ketika Sir Stamford Raffles berkebangsaan Inggris yang memimpin British East India Company datang ke wilayah ini serta mendirikan sebuah tempat perdagangan di pulau yang menjadikan Singapura sebagai pulau komersial paling makmur di tahun ini. Sejak itu pada tahun 1825 Singapura berkembang pesat ditambah sejak pembukaan terusan Suez tahun 1869, Singapura muncul sebagai negara yang sangat diperhitungkan di Asia Tenggara. Pada tahun 1965 Singapura telah menjadi negara yang independen dan kemudian bergabung dalam persemakmuran bangsa Inggris, yang sebelumnya masih menjadi bagian Federasi Malaysia pada tahun 1963  (Cahyadi, et al. 2004, 2-3). Mengingat asal-usul kemerdekaan Singapura yang sebelumnya menjadi persemakmuran Malaysia (sekalipun Malaysia tidak sepenuhnya menerima keberadaan Singapura) Partai Gerakan Rakyat (PAP) mendominasi persoalan mendasar bagi para pemimpin Singapura, yang mana hal ini dibentuk oleh Lee Kuan Yew dalam menjadikan PAP sebagai partai tunggal. Rejim PAP melihat bahwasannya politik dalam negeri merupakan persoalan dasar bagi kelangsungan negar-kota Singapura, hal ini juga diimplementasi dalam setiap pemilu dari tahun 1959-1997 (Cipto 2007, 132-133).
Berbicara mengenai kemajuan Singapura, aspek yang menarik tentang negara ini adalah karakter budaya penduduknya yang kosmopolitan, hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Singapura. Sebagai negara yang populer akan komersialnya yang dibangun oleh Raffles, para imigran banyak datang dan membawa budaya, bahasa, adat istiadat, serta kebiasaan mereka ke Singapura. Perkawinan silang dan perpaduan budaya turut berperan dalam mempengaruhi keragaman budaya yang kemudian berbentuk kedalam masyarakat Singapura dari berbagi aspek, sehingga menjadikan warisan budaya yang beragam dan dinamis. Sebagian besar kaum Melayu Singapura adalah Muslim Sunni yang memeluk Islam sebagai agama mereka, salah satu peninggalan budaya mereka yakni Masjid Jamae Chulia yakni dengan gaya arsitektur eklektik serta gerbang masuk yang bergaya India Selatan dan kedua ruang salatnya bergaya neo-klasik (www.yoursingapore.com).
Singapura menganut sistem pemerintahan republik parlementer, dimana seluruh menteri bertanggung jawab terhadap parlemen. Presiden hanya sebagai wujud simbolis, sedangkan kekuasaan berada di tangan Perdana Menteri dan Perdana Menteri memegang kedudukan mayoritas di parlemen. Dalam bidang politik, Singapura dikuasai oleh sebuah partai mayoritas yang disebut Partai Aksi Rakyat (PAP) (Anon, t.t, dalam www.freedomhouse.org, diakses pada 31 Maret 2014). Pada prakteknya, PAP ini cenderung bersifat otoriter dibanding demokratis. PAP tidak mengizinkan adanya partai oposisi, walaupun partai tersebut dianggap bekerja secara efektif untuk kemajuan negara. Akan tetapi, dengan kinerja PAP yang otoriter tersebut, Singapura dapat berkembang menjadi negara yang maju. Hal itu dapat dilihat dari rendahnya tingkat korupsi di Singapura. Selain itu, Singapura juga dinilai sebagai negara hunian yang nyaman karena sistem pemerintahannya yang fokus pada kesejahteraan rakyat dan penyediaan sarana yang memadai.
Singapura, yang merupakan bekas jajahan Inggris, sejak awal memang sudah dikonstruksikan sebagai negara pusat ekonomi oleh penjajahnya. Inggris, pada masa itu, membangun infrastruktur yang dibutuhkan demi mencapai kemajuan Singapura. Tidak heran jika Singapura dapat menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang pesat.  Perekonomian Singapura bergantung pada ekspor dan impor, khususnya di bidang manufaktur. Kondisi politik dan keamanan yang stabil menyebabkan Singapura menjadi tujuan investasi bagi banyak negara. Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi tersebut, Singapura juga memutuskan untuk member izin atas dibukanya tempat perjudian dan resor kasino sejak tahun 2005 (Anon, t.t, dalam www.mti.gov.sg diakses pada 31 Maret 2014). Dengan segala perkembangan tersebut, Singapura disebut sebagai negara yang paling terglobalisasi dalam Indeks Globalisasi tahun 2006 (Kearney, t.t).
Singapura memiliki pasukan militer yang paling maju di kawasan Asia Tenggara. Pasukan militer tersebut dibuat untuk mencegah adanya serangan dan memberikan bantuan kemanusiaan ke negara lain. Di Singapura, pria di bawah usia 18 tahun wajib mengikuti National Service selama minimal 2 tahun untuk pelatihan militer yang kemudian diarahkan sebagai serdadu cadangan. Selain itu, Singapura juga tergabung dalam FPDA (Five Power Defence Arrangements), yaitu suatu hubungan pertahanan antara Singapura, Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Malaysia, melalui persetujuan multilateral. Walaupun Singapura memiliki pertahanan militer yang baik, Singapura juga fokus pada pertahanan non-militer karena adanya terorisme dan perang non-konvensional.
Dalam perkembangannya, Singapura juga menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara di ASEAN, misalnya saja Indonesia dan Malaysia. Hal itu dikarenakan adanya faktor kedekatan wilayah antara ketiga negara tersebut. Akan tetapi, kerap muncul konflik antarnegara tersebut karena adanya pertentangan politik. Selain itu, Singapura juga berhubungan dekat dengan Brunei Darussalam, dimana Singapura memiliki tempat pelatihan angkatan darat di sana. Tidak hanya di kawasan ASEAN, Singapura juga menjalin hubungan baik dengan negara lain di luar kawasan Asia Tenggara, contohnya China. Kerjasama Singapura dan China dimulai sejak tahun 1990, walaupun Singapura sudah mulai membuka diri pada China sejak tahun 1978. China, yang menganut kebijakan pragmatis, menganggap Singapura memiliki wilayah yang strategis dan infrastruktur yang baik sehingga sangat bagus untuk peluang bisnis. Sedangkan Singapura menganggap China sebagai pasar yang baik untuk Singapura karena modernisasi yang dilakukan oleh China. Salah satu contoh kerjasama kedua negara tersebut adalah Suzhou Industrial Park yang merupakan taman industri internasional dengan teknologi tinggi.
Singapura memang memiliki sejarah kerjasama yang baik dengan negara-negara lain. Akan tetapi, hal itu tidak lantas menghilangkan konflik antara Singapura dengan yang lain. Misalnya saja yang baru-baru ini terjadi adalah konflik Singapura dengan Indonesia atas penamaan KRI Usman Harun. Pengambilan nama tersebut dianggap tidak membuka luka lama Singapura. Usman dan Harun merupakan pahlawan Indonesia yang pada tahun 1965 melakukan pemboman terhadap perkantoran Singapura. Konflik yang menimbulkan korban jiwa tersebut membuat Singapura menganggap kedua marinir itu sebagai teroris.Hal itulah yang mendasari penolakan Singapura atas pemberian nama KRI Usman Harun (Anon, 2014, dalam nasional.news.viva.co.id, diakses pada 31 Maret 2014).
Konflik dengan Indonesia tidak sebatas dalam hal penamaan itu saja, melainkan juga konflik perbatasan wilayah. Singapura dan Indonesia hanya dibatasi oleh Selat Singapura. Dengan itu, Singapura selalu melakukan reklamasi pantai untuk memperluas wilayahnya. Kemudian muncullah masalah ekspor pasir dari Riau dan Singapura yang membuat pemerintah Indonesia akhirnya melarang ekspor tersebut. Hal itu dilakukan karena pasir yang diekspor dari Riau ke Singapura digunakan untuk reklamasi pantai dan sarana pengubah pembatas wilayah.Dilihat dari geografinya, Singapura hanyalah sebuah negara kecil yang berada di Semenanjung Malaka. Akan tetapi, karena adanya konstruksi peninggalan Inggris, Singapura bangkit menjadi negara maju, yang bahkan sangat berperan dalam perekonomian dunia. Kerjasama pun banyak dilakukan Singapura dengan negara-negara maju yang lain untuk menambah kesejahteraan negaranya. Walaupun demikian, konflik tetap tidak bisa dihindari antarnegara tersebut.

Etika Bisnis di Singapura
Singapore terus terpilih sebagai salah satu tempat bisnis yang paling mudah di dunia. Dan juga merupakan tempat perpaduan dari budaya dan perdagangan, dan sebagai tempat bisnis utama dari segala penjuru dunia. Singapore juga merupakan rumah bagi empat bahasa nasional dan beberapa budaya yang berbeda, yang dipengaruhi oleh tradisi dan pengaruh luar lainnya. Ketika menjalankan bisnis di Singapore, pertemuan Anda mungkin akan lebih produktif jika mengetahui beberapa tips dan wawasan mengenai etika.
Singapore adalah sebuah negara kosmopolitan dan umumnya selalu mempertahankan standar internasional dalam bisnis. Terdapat beberapa nuansa yang biasa digunakan oleh orang Singapore dalam menjalankan bisnis. Yang paling utama adalah aturan berpakaian. Negara ini terletak satu derajat agak ke utara dari garis katulistiwa dan cuaca pada umumnya panas dan lembab, sehingga pakaian bisnis (baju dan celana atau rok) tanpa jas atau blazer sudah cukup baik. Anda bahkan tidak perlu menggunakan dasi jika pertemuan tersebut tidak sangat formal.
Dalam pertemuan bisnis, ketika bertemu untuk pertama kalinya, berjabatan tangan sudah cukup. Membungkuk sama sekali tidak diperlukan, kecuali diperlukan dalam budaya tertentu. Jaga kontak tubuh dengan wajar dan tetap sisakan ruang pribadi antara Anda dan lawan bicara Anda. Anda akan menemukan bahwa setelah berjabat tangan, biasanya orang Melayu akan meletakkan sebelah telapak tangan di dada mereka. Ini adalah salam budaya dan Anda tidak perlu melakukan hal yang sama jika Anda bukan keturunan Melayu. Jika masih ragu-ragu, Anda hanya perlu berjabat tangan dengan sopan dan berikan senyuman ramah.
Kartu nama memiliki peranan yang penting di Singapore. Kartu nama dibutuhkan dalam hampir semua pertemua pertama. Standar yang sopan dalam memberikan kartu nama yaitu dengan kedua tangan, dengan tulisan pada kartu nama mengarah pada penerima. Menerima kartu nama juga dilakukan dengan kedua tangan sebagai tanda penghormatan. Ketika menerima kartu nama, akan lebih baik jika melihatnya sebentar, dan memegangnya beberapa saat, kemudian meletakkannya di atas meja, dengan tulisan menghadap ke atas selama pertemuan. Meskipun sebagian besar orang tidak akan tersinggung jika kartu namanya langsung disimpan di kantong, tetapi akan lebih baik jika bisa mengikuti prosesnya.
Di beberapa kantor dan hampir setiap ruangan pribadi, Anda akan diminta untuk melepas sepatu. Ini sangat wajar. Jika diminta, Anda cukup meletakkan sepatu Anda di pintu. Berhati-hatilah dalam memberikan hadiah. Ketika Anda diundang dalam acara sosial oleh rekan bisnis, cukup bagus jika membawa sebotol anggur (atau, jika tuan rumah tidak mengkonsumsi alkohol karena agama, bawalah coklat). Pemberian tip bukanlah suatu kebiasaan di Singapore, tetapi dihargai di sini. Negara ini adalah penghubung global dan merupakan rumah bagi wisatawan dari seluruh dunia. Tetap peka dalam berperilaku dan bertanyalah jika ragu, maka perjalanan bisnis Anda akan menjadi lebih produktif.


Jumat, 05 Januari 2018

PENGARUH STRUKTUR ORGANISASI TERHADAP KEPUTUSAN
A. Pengambilan Keputusan
    Pengambilan keputusan merupakan awal aktivitas organisasi, yang menyangkut masa depan (Syamsi, 1995). Mengambil keputusan merupakan bagian dari proses mempertimbangkan, memahami, mengingat dan menalar tentang segala sesuatu (Dahlan, 2005). Keputusan diambil dengan mengetahui dan merumuskan masalah dengan jelas, kemudian pemecahan masalah tersebut harus didasarkan pemilihan alternatif keputusan terbaik (Syamsi, 1995). Dengan demikian pengambilan keputusan melakukan perbandingan atas beberapa alternatif dan melakukan evaluasi terhadap manfaatnya (Yustina, 2007).
    Pengambilan keputusan merupakan pekerjaan yang paling penting bagi manajer dan penuh resiko karena keputusan yang salah dapat merugikan bisnis (Yustina, 2007). Lebih lanjut Newman, (2007) menambahkan bahwa keputusan yang dibuat para decision makers dapat memiliki resiko serta ketidak pastian yang tinggi tanpa adanya jaminan keberhasilan keputusan yang dibuat, dalam kenyataan terkadang proses membuat keputusan (decision making) merupakan sebuah proses trial and error.
    Fenomena mengenai pengambilan keputusan terjadi di DJP. Menurut David (2005) pengambilan keputusan di Dirjen Pajak belum optimal karena dalam pengambilan keputusan yang ada masih mengejar keuntungan semata atau hanya karena dipengaruhi oleh pihak-pihak lain. Selain itu menurut Daniri (2006) masih belum adanya check & balance dan akuntabilitas yang memadai serta tidak ada pembagian pengambilan keputusan yang tepat atas perbedaan pendapat antara wajib pajak dan DJP.
    Pelaksanaan keputusan itu sendiri lebih ditekankan pada sifat kepemimpinan dari orang yang mengambil keputusan (Ibnu Sayamsi 2000: 2). Selain itu, manajemen dalam menjalankan fungsi dan aktivitas bisnisnya yang meliputi Planning (Perencanaan), Organizing (Pengorganisasian), Actuating (Pengarahan) dan Controlling (Pengendalian), senantiasa memerlukan informasi untuk membuat keputusan(David Kroenke, 1989 : 10).
Mengambil keputusan akan rumit dan sulit apabila informasi yang tersedia terbatas (Yoel, 2012). Informasi tersebut harus dikelola dengan baik dengan cara mengatur sumberdaya informasi (Mc. Leod, 2004: 39). Karena informasi yang tidak akurat, adalah informasi sampah yang tidak ada manfaat-nya bagi pengambilan keputusan (Anwar Nasution, 2007).
    Dari uraian-uraian yang sudah ada secara umum dapat dikatakan bahwa sistem informasi manajemen merupakan suatu sistem yang dirancang untuk menyediakan informasi (David, 1985). Sistem informasi manajemen menyediakan informasi untuk pengabilan keputusan dan pengaruh perhatian baik dalam satuan keuangan maupun non keuangan bagi manajer (Juseph W. Wikinson, 1993). Para manajer memerlukan informasi keuangan sebagai dasar untuk mengambil keputusan mengenai perusahaan atau bagian yang dipimpinnya (Mulyadi, 2012). Oleh karena itu diperlukan Sistem informasi manajemen (SIM).Waters (2004).
    Lebih lanjut Hall (2001) dan McLeod dan Schell (2001) mengklasifikasikan sistem informasi menjadi Sistem Informasi Akuntansi (SIA) dan Sistem Informasi Manajemen (SIM), sistem pendukung keputusan (Decision Support System/DSS), kantor virtual (atau otomasi kantor) dan sistem berbasis pengetahuan (knowlegde-based system/expert system).
    Sistem informasi manajemen merupakan kegiatan yang penting dalam suatu organisasi atau perusahaan (Switser dan Waters, 2004), sehingga Moekijat (2000:102), menambahkan bahwa pengembangan suatu sistem informasi manajemen merupakan keharusan mutlak apabila pimpinan organisasi ingin melakukan tugas-tugas kepemimpinannya dengan efektif. Karena dengan sistem informasi manajemen, manajer dapat menerima informasi yang lebih akurat dan tepat waktu mereka menjadi lebih cepat membuat keputusan sehingga sedikit manajer yang dibutuhkan dalam struktur organisasi (Laudon, 2007: 107). Dan dapat membantu perusahaan ke arah pencapaian tujuan dengan sukses (Anthony et al, 1989; Atkinson et al, 1995).
    Fenomena mengenai sistem informasi manajemen terjadi di instansi Ditjen Pajak yaitu terletak pada komponen sistem informasi manajemen, dimanahardware yang digunakan oleh Ditjen Pajak kualitasnya belum sesuai dengan kebutuhan pengguna (Agus Martowardojo dalam Siti Kurnia Rahayu, 2011). Sedangkan menurut Tobari (2012) hardware yang digunakan oleh Ditjen Pajak kurang uptodate. Tidak hanya itu pegawai pajak dalam mengakses informasi penerimaan pajak melalui sistem Modul Penerimaan Negara, informasi tersebut tidak bisa diakses secara cepat bahkan gagal (Ery, 2011). Kondisi ini disebabkan oleh bandwidth yang ada di Ditjen pajak masih kecil sehingga apabila banyak diakses oleh pegawai pajak maka akan menjadi lamat (Tobari, 2012).
    Selanjutnya Azhar Susanto (2008: 253) menjelaskan bahwa salah satu komponen dalam sistem informasi adalah sumber daya manusia yang sangat penting, karena ikut menentukan kesuksesan organisasi. Secanggih apapun struktur, sistem, teknologi informasi, metode dan alur kerja suatu organisasi, semua itu tidak akan dapat berjalan dengan optimal tanpa didukung sumber daya manusia (SDM) yang capable dan berintegritas. Harus disadari bahwa yang perlu dan harus diperbaiki sebenarnya adalah sistem dan manajemen SDM, bukan semata-mata melakukan rasionalisaasi pegawai, karena sistem yang baik dan terbuka dipercaya akan bisa menghasilkan SDM yang berkualitas (Siti Kurnia Rahayu, 2010: 114).
    SDM dalam sistem informasi manajemen merupakan sumberdaya yang terlibat dalam pengumpulan dan pengolahan data, pendistribusian dan pemanfaatan informasi (O’brien, 2010). Lebih lanjut Sugeng Wibowo (2011) menjelaskan bahwa Sistem Informasi Manajemen merupakan suatu proses pengolahan data yang akan menghasilkan output berupa informasi. Sementara itu struktur organisasi akan menentukan bagaimana arus informasi tersebut berjalan dalam suatu organisasi. Karena sistem informasi dibangun untuk mengalirkan informasi sesuai dengan hirarki dalam struktur organisasi (Scott, 2001: 8).
    Semakin besar lapisan hirarki struktur organisasi akan semakin rumit sistem informasi yang dibangun, selain itu rentang kendali dalam struktur organisasi juga mempengaruhi sistem informasi (Scott, 2001:10). Semakin lebar atau besar rentang kendali maka semakin efisien organisasi, karena mempercepat proses pengambilan keputusan dan meningkatkan fleksibilitas (Robbins dan Judge, 2007:220). Sistem informasi yang didesain untuk organisasi merupakan salinan struktur komunikasi antar unit di dalam organisasi, sehingga kualitas produk sistem informasi sangat dipengaruhi oleh struktur organisasi (Nagappan et al., 2009:1).
Struktur organisasi yang jelas dan teratur dapat membantu untuk memeproleh informasi yang dibutuhkan, sebab dalam struktur organisasi yang jelas dan teratur terdapat tugas dan tanggung jawab masing-masing bagian yang harus dilakukan (Winardi, 2010). Sementara itu Robins (1990) menambahkan bahwa struktur organisasi mengacu pada bagaimana tugas pekerjaan dibagi, dikelompokkan dan dikoordinasikan secara formal. Struktur organisasi merupakan salah satu sarana yang digunakan manajemen untuk mencapai sasarannya (Robins dan Judge, 2007:236).
    Selama ini struktur organisasi Ditjen Pajak didasarkan pada jenis pajak. Dengan struktur organisasi seperti ini pelaksanaan tugas di lapangan seringkali menimbulkan ketidakefisienan yang mengakibatkan pelayanan dan pengawasan tidak optimal (Djazoeli, 2005). Selanjutnya Nur (2007) menambahkan bahwa Dirjen Pajak merasa perlu melakukan perubahan struktur organisasi dari berdasarkan per jenis pelayanan menjadi organisasi dengan struktur berdasarkan fungsi. Pada April 2007, Dirjen Pajak melakukan perombakan besar-besaran di kantor pajak, sekitar 30 ribu karyawan berputar posisi, hal ini membuat beberapa karyawan kebingungan dan menimbulkan demoralisasi di kantor Pelayanan Pajak (Wibowo, 2008). Belum lagi pegawai yang sering mengeluh karena pekerjaan yang diemban lebih banyak dari sebelumnya (Tobari, 2012).
    Untuk melaksanakan perubahan secara lebih efektif dan efisien, sekaligus mencapai tujuan organisasi yang diinginkan, penyesuaian struktur organisasi DJP merupakan suatu langkah yang harus dilakukan dan sifatnya cukup strategis (Prabu Kresna, 2012). Oleh karena itu, struktur organisasi harus juga diberi fleksibilitas yang cukup untuk dapat selalu menyesuaikan dengan lingkungan eksternal yang sangat dinamis, termasuk perkembangan dunia bisnis dan teknologi (Siti Kurnia Rahayu, 2010).
B. Struktur Organisasi
    Pengertian Struktur Organisasi Pengertian Struktur Organisasi menurut Stephen P. Robbins dalam Tim Indeks (2006:585) adalah: “Kerangka kerja formal organisasi yang dengan kerangka kerja itu tugas-tugas pekerjaan dibagi-bagi dikelompokan, dan dikoordinasikan”. Pengertian Struktur Organisasi menurut Hasibuan (2004:128)
“Struktur organisasi yaitu mengambarkan tipe organisasi, pendepartemnan organisasi, kedudukan dan jenis wewenag pejabat, bidang dan hubungan pekerjaan, garis perintah dan tanggung jawab, rentang kendali dan sistem pemimpinan organisasi”. Sedangkan Pengertian Struktur Organisasi menurut Richard M. Steersdalam M. Jamin (1985:70)
    adalah : “Struktur Organisasi merupakan cara selaras dalam menempatkan manusai sebagai bagian organisasi pada suatu hubungan yang relatif tetap, yang sangat menetukan pola-pola interaksi, koodinasi dan tingkah laku yang berorientasi pada tugas”. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa Struktur Organisasi adalah pola hubungan antara individu dalam suatu kelompok sosial dalam melaksanakan tugas atau pekerjaan secara formal dibagi, dikelompokkan dan dikoordinasikan sehiga merupakan sebuah kesatuan yang harmonis yang diarahkan secara trus menerus pada satu tujuan tertentu.
  1. Indikator Struktur Organisasi
Suatu Struktur Organisasi menetapkan cara tugas pekerjaan dibagi, dikelompokkan dan dikoordinasi secara formal. Adapun indikator mengenai Struktur Oraganisasi menurut Stephen Robbins dalam Tim Indeks (2006: 585-593) adalah sebagai berikut :
1. Spesialisasi Kerja :
Spesialisasi maksudnya adalah sampai tingkat mana tugas dalam organisasi dipecah-pecah menjadi pekerjaan yang terpisah-pisah. Hakikatnya, daripada dilakukan satu individu, lebih baik pekerjaan tersebut dipecah menjadi sejumlah langkah dan tiap langkah dilaksanakan oleh individu yang berlainan. Spesialisasi meningkatkan efisiensi, tapi pada tingkat tertentu, spesialisasi menimbulkan kerugian-kerugian. Contoh kerugian yang mungkin timbul adalah kebosanan, kelelahan, stres, produktifitas kerja rendah, kualitas kerja buruk, meningkatkan mangkir kerja/membolos, bahkan pada perusahaan swasta bisa meningkatkan jumlah pekerja yang keluar dari perusahaan.
2. Departementalisasi : Departementalisasi maksudnya adalah dasar yang dipakai dalam pengelompokan pekerjaan sehingga tugas yang sama atau mirip dapat dikoordinasikan dengan lebih baik. Penggolongan pekerjaan dapat dilakukan atas dasar fungsi, produk, lokasi/geografi, pelanggan, atau kategori lain.
3. Rantai Komando : Rantai Komando adalah garis tidak terputus dari wewenang yang tertentu, dari puncak organisasi sampai ke eselon terbawah. Intinya, rantai komando memperjelas siapa melapor ke siapa. Agar berjalan dengan baik, rantai komando memerlukan dua unsur pelengkap, yaitu:
   1) Wewenang, yaitu hak-hak yang melekat dalam posisi manajerial untuk memberi perintah dan mengharapkan agar perintah itu dipatuhi.
   2) Kesatuan komando, yaitu seorang bawahan seharusnya punya satu atasan kepada siapa ia bertanggung jawab langsung.
4. Rentang Kendali : Rentang kendali adalah jumlah bawahan yang dapat diatur manajer secara efektif dan efisien. Dalam rentang kendali yang lebar, terdapat efisiensi dalam hal biaya, tetapi kurang efektif, karena penyelia/supervisor/atasan tidak punya cukup waktu untuk memberi kepemimpinan dan dukungan kepada bawahan. Sedangkan jika rentang kendalinya kecil, konsekwensinya adalah adanya kontrol yang akrab. Meskipun demikian, akibat negatifnya adalah
1) Mahal, karena harus menambah tingkat manajemen.
2) Komunikasi vertikal menjadi rumit karena hirarki tambahan memperlambat pengambilan keputusan.
3) Cenderung pengawasannya lebih ketat dan berlebihan sehingga tidak mendorong otonomi karyawan. Kecenderungan dalam praktek manajemen adalah rentang kendali yang lebar.
5. Sentralisasi dan Desentralisasi : Sentralisasi adalah tingkat dimana pengambilan keputusan dipusatkan pada suatu titik tunggal dalam organisasi. Sedangkan dalam desentralisasi ada keleluasaan, dimana pengambilan keputusan didorong ke bawah pada tingkat pekerja terendah.
6. Formalisasi : Formalisasi adalah suatu tingkat dimana pekerjaan dalam organisasi itu dibakukan. Jika pekerjaan sangat diformalkan, pelaksana pekerjaan hanya punya sedikit keleluasaan tentang apa yang harus dikerjakan, kapan harus dikerjakan, dan bagaimana seharusnya mengerjakannya. Dalam formalisasi, siapapun yang melaksanakan pekerjaan, dengan input dan proses yang sama, maka akanmenghasilkan output yang konsisten dan seragam. Dalam kondisi formalisasi yang tinggi terdapat:
1) Uraian jabatan yang tersurat,
2) Banyak aturan organisasi,
3) Prosedur yang terdefinisi dengan jelas yang meliputi proses kerja dalam organisasi.
C. Sistem Informasi Manajemen
    Pengertian Sistem Informasi Manajemen Pengertian Sistem menurut Mulyadi (2008 : 5) adalah sebagai berikut : “Sekelompok dua atau lebih komponen-komponen yang saling berkaitan (subsistemsubsistem yang bersatu untuk mencapai tujuan yang sama)”. Pengertian Sistem menurut Winarno (2006 : 114) adalah sebagai berikut : “Sekumpulan komponen yang saling bekerja sama untuk mencapai tujuan tertentu”.
    Pengertian Sistem menurut McLeod (2001: 11) adalah sebagai berikut: “Asistem is a group of elements that are integrated with the common porpose of achieving an objective”. Sistem adalah sekelompok elemen yang terintegritasi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan. Pengertian Informasi menurut Jogiyanto (2005; 8) adalahsebagai berikut : “Informasi diartikan sebagai data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih berarti bagi yang menerimanya” . Pengertian Informasi menurut Kusrini (2007:7) adalah sebagai berikut : “Informasi adalah data yang sudah diolah menjadi sebuah bentuk yang berguna bagi pengguna yang bermanfaat dalam pengambilan keputusan saat ini atau mendukung sumber informasi”.
    Pengertian Informasi menurut McLeod (2001: 15) adalah sebagai berikut: “Data yang telah diproses, atau data yang memiliki arti”. Sedangkan pengertian Sistem Informasi menurut Husain dan Wibowo (2002) adalah sebagai berikut : ”Sistem Informasi adalah seperangkat komponen yang saling berhubungan yang berfungsi mengumpulkan, memproses, menyimpan dan mendistribusikan informasi untuk mendukung pembuatan keputusan dan pengawasan dalam organisasi”.
    Definisi Sistem Informasi menurut Azhar Susanto (2008:52) adalah sebagai berikut : “Sistem informasi adalah kumpulan dari subsistem apapun baik phisik ataupun non phisik yang saling berhubungan satu sama lain dan bekerja sama secara harmonis untuk mencapai satu tujuan yaitu mengolah data menjadi informasi yang berarti dan berguna”.
    Sedangkan menurut definisi dari Robert A.leitch dan K.Roscoe Davis dalam Jogiyanto (2005;11) adalah sebagai berikut: “Sistem informasi adalah suatu sistem didalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan pengolahan transaksi harian , mendukung operasi ,bersifat manajerial dan kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu dengan laporan-laporan yang diperlukan”.
    Sedangkan pengertian Sistem Informasi Manajemen (SIM) Scoot, dalam Komarudin dan Sastradipoera (2005: 1) adalah sebagai berikut : “Serangkaian sub-sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara rasional terpadu dalam mentrasformasi data, sehingga menjadi informasi melalui serangkaian cara untuk meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan sifat manajer atas dasar kretiria mutu yang telah ditetapkan”.
    Pengertian Sistem Informasi Manajemen (SIM) menurutFrederick H.Wudalam Jogiyanto (2005 : 14) SIM adalah sebagai berikut : “Kumpulan dari manusia dan sumber daya modal didalam suatu organisasi yang bertangung jawab mengumpulkan dan mengelola data untuk menghasilkan informasi yang berguna untuk semua tingkatan manajemen di dalam kegiatan perencanaan dan pengendalian”.
    Sedangkan menurut Gordon.B Davisdalam Jogiyanto (2005: 15) adalah sebagai berikut : “Sistem Informasi Manajemen merupakan suatu sistem yang melakukan fungsi-fungsi untuk menyediakan semua informasi yang mempengaruhi semua operasi organisasi”.
    Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa Sistem Informasi Manajemen adalah seluruh rangkaian aktivitas kerja sistem informasi yang membentuk satu kesatuan sistem dengan tujuan yang sama melalui proses pengumpulan, penyimpanan, pengolahan sampai akhirnya menghasilakan informasi yang berguna bagi seluruh anggota organisasi (pemimpin dan staf) untuk membuat kebijakan atau menentukan keputusan menjadi lebih baik berkenaan dengan kepentingan organisasi.
D. Indikator Sistem Informasi Manajemen
   Adapun indikator sitem informasi manajemen menurut Gordon B. Davis dalam Bob Widyahartono (1991: 60) adalah sebagai berikut:
1. Hardware (Perangkat Keras). Perangkat keras bagi suatu sistem informasi manajemen terdiri dari masukan/keluaran, unit penyimpanan file, peralatan penyimpanan data dan terminal masukan.
2. Software (Perangkat Lunak). Perangkat lunak dapat dibagi dalam tiga jenis utama:
   a. Sistem perangkat lunak umum, seperti sistem pengoperasian dan manajemen data yang memungkinkan pengoperasian sistem komputer.
   b. Aplikasi perangkat lunak umum, seperti model analisis dan keputusan.
   c. Aplikasi perangkat lunak yang terdiri dari program yang secara spesipik dibuat untuk setiap aplikasi.
3. Database/File. File yang berisikan program dan data dibuktikan dengan adanya media penyimpanan fisik yang disimpan di perpustakaan file. File juga meliputi keluaran tercetak dalam catatan lain atas kertas, mikro film dan sebagianya.
4. Prosedur. Prosedur merupakan komponen fisik, berbentuk fisik seperti buku panduan dan instruksi. Tiga jenis prosedur yang dibutuhkan yaitu: a. Intruksi untuk pemakai, b. Intruksi untuk penyiapan masukan, c. Intruksi pengoperasian untuk karyawan pusat komputer.
5. Brainware (Personalia Pengoprasian). Operator komputer, analisa sistem, pembuatan program, personalia penyiapan data, pimpinan sistem informasi.
6. Jaringan Sumber daya jaringan merupakan media komunikasi yangmenghubungkan komputer, pemroses komunikasi, dan peralatan lainnya serta dikendalikan melalui software komunikasi.Sumber daya jaringandapat berupa media komunikasi seperti kabel, satelit, seluler dan dukunganjaringan seperti modem, software pengendali serta prosesor antar jaringan.
E. Pengambilan Keputusan Manajemen
    Pengertian Pengambilan Keputusan Manajemen Pengertian Keputusan menurut Ukas (2004: 140) adalah sebagai berikut: “Serangkaian dari pada proses pemikiran tentang suatu masalah yang dihadapi. Kejituan setiap tindakan yang diambil oleh manajer sangat mentukan terhadap untuk keputusan yang diambilnya dan kemungkinan keberhasilan dalam mencapai tujuan yang digunakan”.
  Menurut Ibnu Syamsi (2000: 7), keputusan adalah sebagai berikut: “Hasil dari pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas” Pengertian Keputusan menurut Salusu (1996: 51) adalah sebagai berikut: “Sebuah kesimpulan yang dicapai sesudah dilakukan pertimbangan ialah menganalisis beberapa kemungkinan atau alternatif, sesudah itu dipilih satu diantaranya”.
  Pengertian Pengambilan Keputusan menurut Endah Murtana Sari (2009) adalah sebagai
berikut : “Tindakan manajemen dalam pemilihan alternatif untuk mencapai sasaran”.
  Pengertian Pengambilan Keputusan menurut Moekijat (2005 : 137) adalah sebagai berikut : “Merupaka suatu proses pemilihan dari beberapa alternatif yang dapat bersifat kuantitatif atau kualitatif, alternatif yang terbaik untuk memecahkan masalah atau menyelesaikan suatu pertentengan”.
   Pengertia Pengambilan Keputusan menurut pendapat Siagian (2006: 19) adalah sebagai
berikut : “Inti kepemimpinan karena pengambilan keputusan adalah kegiatan intelektual yang secara sadar dilakukan olehseseorang sehingga lebih menjamin bahwa hal-hal yang dihadapi oleh organisasi telah diperhitungkan sebelumnya dan dengan demikian terhindar dari berbagai jenis pendekatan”. maksud untuk mencapai tujuan organisasi secara efesien dan efektif”.
  Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas maka penulis dapat menarik kesimpulan pada hakekatnya pengambilan keputusan adalah suatu pendekatan dan proses penentuan keputusan yang terbaik dari sejumlah alternatif untuk aktivitas dan kegiatan pada masa yang akan datang yang diambil oleh manajemen/ manajerial untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
F. Indikato Pengambilan Keputusan Manajemen
  Indikator Pengambilan Keputusan Manajemen Indikator Pengambilan Keputusan menurut Ibnu Syamsi (2002: 12) adalah sebagai berikut :
1. Tujuan. Tujuan tersebut harus disesuaikan dengan tingkat relevansi dengan kebutuhan, kejelasan dan kemampuan mempredeksi.
2. Identifikasi Alternatif Identifikasi alternatif maksudnya adalah untuk mencapai tujuan tersebut, kiranya perlu dibuatkan beberapa alternatif, yang nantinya perlu dipilih salah satu yang dianggap paling tepat.
3. Faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya. Faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya artinya adalah keberhasilan pemilihan alternatif itu baru dapat diketahui setelah putusan itu dilaksanakan. Waktu yang akan datang tidak dapat diketahui dengan pasti. Oleh karena itu kemampuan pimpinan untuk memperkirakan masa yang akan datang sangat menentukan terhadap berhasil tidaknya keputusan yang akan dipilihnya.
4. Dibutuhkan sarana untuk mengukur hasil yang dicapai. Dibutuhkan sarana untuk mengukur hasil yang dicapai maksudnya adalah, masing-masing alternatif pelru disertai akibat positif dan negatifnya, termasuk sudah diperhitungkan didalamnya uncontrollable evnts-nya. Alternatif-alternarif mengunakan sarana atau alat untuk mengukur yang akan diproleh atau pengeluaran yang perlu dilakukan dari setiap kombinasi alternatif keputusan dan pristiwa diluar jangakauan manusia itu.
G. Pengaruh Struktur Organisasi Terhadap Pengambilan Keputusan Manajemen
    Menurut Syamsi (2000: 23) mengemukakan salah satu faktor yang mempengaruhi pengambilan keputusan adalah keadaan internal organisasi, keadaan internal organisasi bersangkut paut dengan apa yang ada dalam organsasi tersebut, keadaan internal organisasi antaralain meliputi dana yang tersedia, keadaan sumber daya manusia, kemampuan karyawan, kelengkapan dari peralatan organisasi dan struktur organisasi.
    Dengan struktur organisasi yang sesuai dengan perusahaan akan semakin lebih efisien dalam pengambilan keputusan dalam perusahaan (M. Fitiri dan Widho, 2002). Selanjutnya dalam penelitian yang dilakukan oleh Muhammad Ridah Suaib (2008) menyatakan bahwa struktur organisasi mempengaruhi peningkatan kinerja karyawan terutama didukung dengan adanya ketepatan pembagian tugas dan tanggung jawab.
    Hasil penelitian tersebut didukung oleh Robins (1996) yang menyatakan bahwa: “Struktur organisasi merupakan alat pengendalian organisasional yang menunjukkan tinggkat pelimpahan wewenang pimpinan puncak dalam pembuatan keputusan yang secara ekstrim dikelompokkan menjadi dua, yaitu sentralisasi dan desentralisasi”.
    Sedangkan Widjajanto (2001; 18) juga menambahkan bahwa: “Struktur Organisasi adalah struktur hierarki yang menujukan suatu susunan pembagian tangung jawab menurut pungsi hirarkis yang ditunjukan untuk pengambilan keputusan individu dalam suatu organisasi”.
    Berdasarkan kerangka berfikir di atas maka hipotesis dalam penelitian ini adalah pengaruh Struktur Organisasi dan Sistem Informasi Manajemen terhadap Pengambilan Keputusan Manajemen pada KPP Kanwil Jawa Barat I. Baik secara simultan maupun parsial.
Untitled
Gambar 1. Skema Kerangka Penelitian
H. Objek Dan Metode Penelitian
  1. Objek Penelitian
         Objek penelitian dalam penelitian ini adalah struktur organisasi, sistem informasi manajemen dan pengambilan keputusan manajem. Penelitian ini dilaksanakan pada Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa barat I.
      2. Metode Penelitian
      Dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan penelitian deskriptif dan verifikatif. Dengan menggunakan metode penelitian akan diketahui hubungan yang signifikan antara variable yang diteliti sehingga menghasilkan kesimpulan yang akan memperjelas gambaran mengenai objek yang diteliti.
I. Desain Penelitian
Langkah-langkah desain penelitian menurut Menurut Sugiyono (2011:13) menyatakan bahwa:
1. Sumber Masalah Membuat identifikasi masalah berdasarkan latar belakang penelitian sehingga mendapatkan judul sesuai dengan masalah yang ditemukan. Identifikasi masalah diperoleh dari adanya fenomena yang terjadi di masyarakat. Dalam penelitian ini penulis mengambil judul Pengaruh Struktur Organisasi (X1) dan Sistem Informasi Manajemen (X2) terhadap Pengambilan Keputusan Manajemen (Y).
2. Rumusan Masalah. Rumusan masalah merupakan pertanyaan yang akan dicari jawabannya melalui pengumpulan data. Adapun rumusan masalah dalam penelitian ini adalah :
    5. Bagaimana struktur organisasi pada KPP di Kanwil Jawa Barat I.
   6. Bagaimana sistem informasi manajemen pada KPP di Kawil Jawa Barat I.
   7. Bagaimana pengambilan keputusan manajemen pada KPP di Kanwil Jawa Barat I.
   8. Seberapa besar pengaruh struktur organisasi dan sistem informasi manajemen terhadap pengambilan keputusan manajemen pada KPP di Kanwil Jawa Barat I.
3. Konsep dan teori yang relevan dan penemuan yang relevan Untuk menjawab rumusan masalah yang sifatnya sementara (berhipotesis), maka peneliti mengkaji teori-teori yang relevan dengan masalah. Selain itu penemuan penelitian sebelumnya yang relevan juga digunakan sebagai bahan untuk memberikan jawaban sementara terhadap masalah penelitian (hipotesis). Telaah teoritis mempunyai tujuan untuk menyusun kerangka teoritis yang menjadi dasar untuk menjawab masalah atau pertanyaan penelitian yang merupakan tahap penelitian dengan menguji terpenuhinya kriteria pengetahuan yang rasional.
4. Pengajuan hipotesis Jawaban terhadap rumusan masalah yang baru didasarkan pada teori dan didukung oleh penelitian yang relevan, tetapi belum ada pembuktian secara empiris (faktual). Hipotesis yang dibuat dalam penelitian ini adalah terdapat pengaruh struktur organisasi dan sistem informasi manajemen terhadap pengambilan keputusan manajemen (survey pada 10 KPP di Kanwil Jawa Barat I)
5. Metode penelitian Dalam melakukan penelitian penulis menggunakan metode descriptive analysis dan verifikatif. Metode descriptive analysis digunakan untuk menjawab rumusan masalah pertama, kedua dan ketiga yaitu:
   1. Bagaimana struktur organisasi pada KPP di Kanwil Jawa Barat I.
   2. Bagaimana sistem informasi manajemen pada KPP di Kawil Jawa Barat I.
   3. Bagaimana pengambilan keputusan manajemen pada KPP di Kanwil Jawa Barat I. Sedangakan metode verifikatif digunakan untuk menjawab rumusan masalah keempat yaitu:
   4. Seberapa besar pengaruh struktur organisasi dan sistem informasi manajemen terhadap pengambilan keputusan manajemen pada KPP di Kanwil Jawa Barat I.
6. Menyusun instrumen penelitian Setelah metode penelitian yang sesuai dipilih, maka peneliti dapat menyusun instrumen penelitian. Instrumen ini digunakan sebagai alat pengumpul data. Instrumen pada penelitian ini berbentuk kuesioner, untuk pedoman wawancara. Sebelum instrumen digunakan untuk pengumpulan data, maka instrumen penelitian harus terlebih dulu diuji validitas dan reabilitasnya. Dimana validitas digunakan untuk mengukur kemampuan sebuah alat ukur dan reabilitas digunakan untuk mengukur sejauh mana pengukuran tersebut dapat dipercaya. Setalah data terkumpul maka selanjutnya dianalisis untuk menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis yang diajukan dengan teknik statistik tertentu. Selanjutnya peneliti menganalisis dan mengambil sampel untuk melakukan penelitian mengenai:
   1. Struktur organisasi yang diperoleh dari data kuesioner yang akan diisi oleh Pegawai Pajak pada KPP di Kanwil Jawa Barat I.
   2. Sistem informasi manajemen yang akan diisi oleh Pegawai Pajak pada KPP di Kawil Jawa Barat I.
   3. Pengambilan keputusan manajemen yang akan diisi oleh Pegawai Pajak pada KPP di Kanwil Jawa Barat I. Selanjutnya penulis mulai menggunakan perhitungan dengan menggunakan MSI (Method Succesive Interval) untuk menaikkan skala ordinal menjadi interval, sebagai syarat untuk menggunakan analisis regresi linier berganda.
7. Kesimpulan Kesimpulan adalah langkah terakhir berupa jawaban atas rumusan masalah. Dengan menekankan pada pemecahan masalah berupa informasi mengenai solusi masalah yang bermanfaat sebagai dasar untuk pembuatan keputusan.
J. Kesimpulan
   Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh Struktur Organisasi dan Sistem Informasi Manajemen terhadap Pengambilan Keputusan Manajemen pada KPP di KanwilJawa Barat I, dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut:
1. Struktur organisasi pada Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat I secara umum sudah baik. Berdasarkan spesialisasi pekerjaan, departementalisasi, rantai komando, rentang kendali, sentralisasi & desentralisasi serta formalisasi sudah termasuk dalam katagori baik bahkan pada indicator rantai komando termasuk dalam katagori sangatbaik.
18
2. Sistem informasi manajemen yang digunakan pada Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat I secara umum sudah baik. Demikian juga bila dilhat berdasarkan indicator hardware, software, data base, prosedur, brainware dan Jaringan semuanya sudah termasuk baik. Hanya saja pada indicator jaringan yang digunakan sebagian besar Kantor PelayananPajak di KanwilJawa Barat I masih tidak bisa di akses secara cepat.
3. Secara keseluruhan pengambilan keputusan manajemen pada Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat I secara umum sudah baik. Berdasarkan indicator tujuan, indentifikasi alternative jawaban, faktor yang tidak dapat diketahui dan sarana untuk menguku rhasil yang dicapai termasuk dalam katagori baik.
4. Strukturorganisasi dan sisteminformasi manajemen memberikan pengaruh yang besar terhadap pengambilan keputusan manajemen pada Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat I. Struktur Organisai dan sisteminformasi manajemen adalah salah satu pengaruh dalam proses peningkatan pengambilan keputusan manajemen. Arah hubungan positif menunjukan bahawa semakin baik struktur organisasi dan system informasi manajemen maka akan meningkatkan pengambilan keputusan pada Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat I. Sebaliknya semakin tidak baik struktur organisasi dan sisteminformasi manajemen maka akan menerunkan pengambilan keputusan manajemen.
K. Saran
    Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan bahwa Struktur Organisasi dan Sistem Informasi Manajemen telah terbukti memberikan pengaruh yang positif terhadap Pengambilan Keputusan Manajemen yang dihasilkan pada KPP di Kanwil Jawa Barat 1 untuk itu peneliti mencoba memberikan saran yang mungkin dapat dijadikan masukkan kepada KPP di Kanwil Jawabarat 1 antaralains ebagaiberikut:
1. Struktur organisasi pada Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat I sudah baik. Namun apabila dilihat pada komponen rentang kengndali perlu ditingkatkan kembali. Pendistribusian tugas dari atasan kebawahan pimpinan lebih memperhatikan beban kerja yang akan di emban oleh pegawi dalam organisasi dan penyesuaian jumlah personil dan jabatan agar sesuai dengan struktur organisasi.
2. Sistem informasi manajemen pada Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat I secara umum sudah baik. Namun apabila dilihat darikomponen jaringan dan hardware perlu ditingkatkan lagi dengan cara menambah kapasitas bandwidth menjadi lebih tinggi supaya dalam penyampaian informasi dapat diakses secara cepat dan tidak membuang waktu sedangkan hardware diperbaharui (lebih uptodate) dan menggunakan komponen hardware yang lebih tinggi dan terbaru sehingga system informasi manajemen dalam menyampaikan informasi lebih cepat, efesien dan sesuai dengan kebutuhan.
3. Pada dasarnya pengambilan keputusan manajemen yang ada pada Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat I sudah baik. Namun apabila dilihat dari komponen identifikasi alternatif perlu ditingkatkan lagi. Untuk itu organisasi perlu memperhatikan, memahami, mengingat tentang resiko yang akan ditimbulkan dari proses pengambilan keputusan tidak hanya itu organisasi juga harus memilih beberapa alternative dan melakukan evaluasi baik buruknya terhadap manfaat dari alternatif tersebut. Sehingga dapat mengambil keputusan dengan tepat.
4. Karena pengaruh struktur organisasi dan system informasi manajemen memiliki pengaruh yang kuat terhadap pengambilan keputusan manajemen, maka diharapkan Kantor Pelayanan Pajakdi Kanwil Jawa Barat I dapat mempertahankan keduanya, sehingga akan lebih efektif dalam meningkatkan pengambilan keputusan manajemen.

















DAFTAR PUSTAKA


Agung Darono. (2009). Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Pajak Berbasis Financial Information Sistem Model: Suatu Kajian Pendahuluan. Seminar Nasional Aplikasi Teknologi Infromasi 2009, 39-45.
Ahmad Firman (2011). Pengaruh Sistem Informasi Manajemen Terhadap EfektivitasPengambilan Keputusan. Jurnal Ilmiah Masagena Kopertis, Volome, VI (Nomor. 2).
Ali akbar. (2010). Peranan Sistem Informasi Manajemen Berbasis Komputer dalam Pemrosesan Data Pengambilan. Jurnal Ekonomika, Volume II, (Nomor I.), 87-96.
Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek. Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Atkinson, Anthony A., Rajiv D. Baker., Robert S. Kaplan & S. Mark Young. (1995). Management Accounting, Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice Hall Inc.
Azhar Susanto. (2009). Sistem Informasi Manajemen (Pendekatan Terstruktur Resiko Pengembangan). Bandung: Lingga Jaya.
Azhar Susanto. (2008). Sistem Informasi Akuntansi. Jakarta: Gramedia.
Dahlan Siamat. (2005). Manajemen Lembaga Keuangan. “Kebijakan Moneter dan Perbankan”,Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, edisi kesatu.
Daniri.(2006). Majalah Berita Pajak Diakses Tanggal 24 Oktober 2012. http://forum-pajak@yahoogroups.com
David. (2005). Pengambilan Keputusan dalam SIM . Diakses Tanggal 27 Oktober 2012 http://auliayoel.blogspot.com
David. B. Gordon. 1985. Sistem Informasi Manajemen, Jakarta. PT. Pustaka Binaman Pressindo, Jilid 1.
Dayat Subeki. (2009). System Pendukung Pengambilan Keputusan dalam Manajerial Pembuatan Keputusan. Teknomatika, Vol. 2 (No. 1), 76-82.
Diana Rahmawati. (2005). Peranan Teknologi Informasi dalam hubungan Struktur Organisasi dengan Lingkungan.
Djazoeli Sadhani. (2005). Menuju Good Governance Melalui Modernisasi Perpajakan. Diakses 23 Mei 2005 dari World Wide Web: http://www.pajakonline.com
Fitri Rahmandana & Widho Bijaksana. (2002). Pengaruh Sistem Informasi Manajemen dan Struktur Organisasi Terhadap Efektivitas Pengambilan Keputusan pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Belawan. Jurnal Ilmiah”Manajemen & Bisnis, (No. 02), Vol. 02.
Ghozali, Imam. (2006). Analisis Multiate dengan SPSS. Edisi 4. Unipersitas Diponogoro.
Gordon. B. Davis. (1991). Konsep Dasar Sistem Informasi Manajemen, Struktur dan Pengembanganya (Alih Bahasa Bob Widyahartono. Jakarta : PT Pustaka Binamon Pressindo.
Guilford, J.P. (1956). Fundamental Statistics in Psychology and Education. (p. 145). New York: McGraw Hill. Gujarati. (2003). Basic Economic Materia. United States of American.
Hall. A. James. (2001). Sistem Informasi Akuntansi 11. Jakarta: Salemba Empat.
Hays, W.L. (1969). Statistics, London : Holt, Rinehart & Winston.
Husein & Wibowo. (2000). Sistem Informasi Manajemen. UPP AMP YKPN. Edisi Pertama.
Husein, Fakhri danWibowo. (2002). Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta: AMP YKPN Indrajit, Richardus Eko, Pengantar Konsep Dasar Manajemen Sistem Informasi dan Teknologi Informasi. Jakarta: Alex Media Komputindo.
Ibnu Syamsi. (2000). Pengambilan Keputusan dan Sistem Informasi . Jakarta: Bumi Aksara.
Ibnu Syamsi. (1995). Pengambilan Keputusan dan Sistem Informasi. Jakarta: Bumi Aksara.
Imam Ghozali. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS. Cetakan keempat. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Iqbal Hasan, M. (2002). Pokok-Pokok Pengambilan Keputusan. Jakarta : Ghalia. Jogiyanto. (2005). Sistem Teknologi Informasi (Edisi 2). Yogyakarta: Andi.
Jogiyanto. (2005). Analisis dan Desain Sistem Informasi: Pendekatan Terstruktur Teori dan Praktek Aplikasi Bisnis. Yogyakarta: Andi. Kroenke, David, 1989, Management Information System, Mc.
Graww hill. Kusrini, & Ahmad, K. (2007). Tuntunan Praktis Membangun Sistem Informasi Akuntansi dengan Visual Basic dan Microsoft SQL Server. Yogyakarta: Andi.
Laudon, Kenneth C., Laudon, Jane P. (2007). Management information Systems Managing The Digital Firm. 10th Edi-tion. Pearson Education, Inc: Pearson.
Malayu Hasibuan. (2004). Manajemen Semberdaya Manusia. Bandung: CV.Alphabeta.
McLeod. Raymond. (1995). Sistem Informasi Manajemen. New Jersey: PrnticeHall, Inc.
McLeod, Raymond. (2001). Management Information System. Alih bahasa Hendra Teguh. Jakarta : PT.Prenhallindo.
McLeod, Jr., R. (1996). Sistem Informasi Manajemen. Edisi Bahasa Indonesia Jilid I. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.
Muhammad Ridha Suaib. (2008). Pengaruh Lingkungan, Perilaku, Struktur Organisasi dan Implementasi Sistem Informasi Berbasis Komputer terhadap Kinerja Karyawan Pemerintah Kabupaten Sorong, Papua. Jurnal Aplikasi Manajemen, Volume 6, (Nomor I).
Moekijat. (2005). Pengantar Sistem Informasi Manajemen. Bandung: CV. Mandar Manju.
Moh, Najir. (2003). Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia. Mulyadi. (2008). Sistem Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.
Murdick, Robert J. (1993). Sistem Informasi Manajemen Modern. Jakarta: Erlangga. Nagappan, Nachiappan., Murphy, Brendan, Basili ,
Victor R. (2009). The influence of Organizational structure on Soft-ware Quality : an Empirical Case Study Ieeexplore.ieee.org/iel5/481410. Nor,
Wahyudin. (2007). Desentralisasi Dan Gaya Kepemimpinan Sebagai Variabel Moderating Dalam Hubungan Antara Partisipasi Penyusunan Anggaran Dan Kinerja Manajerial. Simposium Nasional Akuntansi X . Makasar. Pp. 1 – 27.
Nur Ilavi Hudijani, (2007). Memacu Penerimaan Lewat Modernisasi Perpajakan. Diakses pada 25 Oktober 2007 dari World Wide Web : suaramerdeka.com
Nur Indriantoro. (2002). Metodologi Penelitian Bisnis. Cetakan. Kedua. Yogyakara: BFEE UGM. O’Brien, J.A. & Marakas, G.M.M. (2010). Management Information Systems (10thed.). Boston: McGraw-Hill Irwin.
Pancawati. (1997). Peranan Sistem Informasi Akuntansi dan System Informasi Manajemen Dalam Pengambilan Keputusan. Jurnal Gema Stikubank. 54-63.
Prabu Kresna. (2012). Modernisasi Sistem Penerimaan Negara. Diakses pada 10 Oktober, 2011 dari World Wide Web: http://wartapajak.com/index.php/8-bincangringan/regulasi?start=260
Ria Arifianti (2009). Peranan Sistem Informasi Manajemen dalam Pengambilan Keputusan Seorang Manajer. Modul Ajar, Universitas Marcubuana.
Richard M. Steers. (1985). Eviktivitas Organisasi: kajian Prilaku (Alibahasa M. Jamin). Jakarta: Erlagga.
Robbins & Coulter. (2007). Manajemen. Jakarta : Indeks. Robbins, P.
Stephen &Judge, A. (2007). Organizational Behaviour. 12nd edition. New Jersey: Upper Saddle River. Robbins, P Stephen. Diterjemakan olhe Tim Index. (2006). Prilaku Organisasi. jilid II, Edisi 10. Jakarta: Gramedia. Robbins, P Stephen. (1990). OrganizationTheory structure, Design and
Iklan