Kamis, 18 Januari 2018

Efek Kultur Budaya Suatu Negara Terhadap Produktivitas Kerja

1.1       LATAR BELAKANG

Setiap perusahaan selalu berusaha meningkatkan produktivitas karyawannya agar dapat bertahan, berkembang serta memiliki kepercayaan yang tinggi dari pihak luar perusahaan. Demi meningkatkan produktivitas karyawan, maka sering dilakukan pembenahan dan peningkatan sumber daya manusia dari karyawan.
Di era globalisasi dan perekonomian dunia yang pro pasar bebas (free market) dewasa ini, mulai tampak semakin jelas bahwa peranan non-human capital di dalam sistem perekonomian cenderung semakin berkurang. Para stakeholder yang bekerja di dalam sistem perekonomian semakin yakin bahwa modal tidak hanya berwujud alat-alat produksi seperti tanah, pabrik, alat-alat, dan mesin-mesin, akan tetapi juga berupa human capital. Sistem perekonomian dewasa ini mulai didominasi oleh peranan human capital, yaitu ‘pengetahuan’ dan ‘ketrampilan’ manusia.
Namun seringkali kegiatan peningkatan sumber daya manusia dari karyawan tidak mencapai hal yang diharapkan yaitu tercapainya tujuan dari organisasi perusahaan tersebut seperti peningkatan produktivitas kerja karyawan. Meskipun telah memiliki sumber daya yang berkualitas, karyawan belum tentu dapat memberikan hasil kerja yang baik bagi organisasi perusahaan apabila mereka masih berada dalam belenggu budaya kerja yang kurang mendukung dan tidak kondusif. Karyawan akan larut dalam budaya organisasi perusahaan yang tidak mendukung terhadap tujuan organisasi perusahaan yaitu melenceng dari nilai-nilai organisasi perusahaan.
Produktivitas karyawan ditentukan oleh keberhasilan budaya organisasi perusahaan (corporate culture) yang dimilikinya. Keberhasilan mengelola organisasi tidak lagi hanya ditentukan oleh keberhasilan prinsip-prinsip manajemen seperti planning, organizing, leading, controlling; akan tetapi ada faktor lain yang lebih menentukan keberhasilan peusahaan mencapai tujuannya. Faktor tersebut adalah budaya organisasi perusahaan (corporate culture). Budaya organisasi perusahaan dapat membantu penerapan manajemen dengan baik.
Budaya perusahaan secara realistis mempengaruhi produktivitas kerja karyawan. Kesadaran pemimpin perusahaan ataupun karyawan terhadap pengaruh budaya organisasi perusahaan dapat memberikan semangat yang kuat untuk mempertahankan, memelihara, dan mengembangkan budaya organisasi perusahaan tersebut yang merupakan daya dorong yang kuat untuk kemajuan organisasi perusahaan.
1.2       PENGERTIAN PRODUKTIVITAS KERJA
Produktivitas kerja merupakan suatu konsep yang menunjukkan adanya kaitan output dengan input yang dibutuhkan seorang tenaga kerja untuk menghasilkan produk. Pengukuran produktivitas dilakukan dengan melihat jumlah output yang dihasilkan oleh setiap pegawai selama sebulan. Seorang pegawai dapat dikatakan produktiv apabila ia mampu menghasilkan jumlah produk yang lebih banyak dibandingkan dengan pegawai lain dalam waktu yang sama ( J. Ravianto, 1986 ).
Dapat dikatakan bahwa produktivitas adalah perbandingan antara hasil dari suatu pekerjaan karyawan dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan. Hal ini sesuai dengan pendapat Sondang P. Siagian bahwa produktivitas adalah “Kemampuan memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari sarana dan prasarana yang tersedia dengan menghasilkan output yang optimal bahkan kalau mungkin yang maksimal”. Menurut Komarudin, “produktivitas pada hakekatnya meliputi sikap yang senantiasa mempunyai pandangan bahwa metode kerja hari ini harus lebih baik dari metode kerja kemarin dan hasil yang dapat diraih esok harus lebih banyak atau lebih bermutu daripada hasil yang diraih hari ini” (Komarudin,1992).
1.   Faktor  Yang  Mempengaruhi  Produktivitas Kerja
Sjahmien Moellfi (2003) menyatakan ada 3 faktor yang mempengaruhi produktivitas yaitu :
A.   Beban kerja
       Berhubungan langsung dengan beban fisik, mental maupun sosial yang mempengaruhi tenaga kerja sehingga upaya penempatan pekerja yang sesuai dengan kemampuannya perlu diperhatikan.
B.   Kapasitas kerja
       Kapasitas kerja adalah kemampuan seseorang untuk menyelesaikan pekerjaannya pada waktu tertentu. Kapasitas kerja sangat bergantung pada jenis kelamin, pendidikan, ketrampilan, usia dan status gizi.

C.   Beban tambahan akibat lingkungan kerja
Lingkungan kerja yang buruk akan memberikan dampak yang buruk juga          berupa penurunan produktivitas kerja, antara lain:
Faktor fisik seperti panas, iklim kerja, kebisingan, pencahayaan, dangetaran.
Faktor kimia seperti bahan- bahan kimia, gas, uap, kabut, debu, partikel.
Faktor biologis seperti penyakit yang disebabkan infeksi, jamur, virus, dan parasit.
Fisiologis, letak kesesuaian ukuran tubuh tenaga kerja dengan peralatan, beban kerja, posisi dan cara kerja yang akan mempengaruhi produktivitas kerja.
Faktor psikologis, berupa kesesuaian antara hubungan kerja antar karyawan sendiri, karyawan atasan, suasana kerja yang kurang baik serta pekerjaan yang monoton.
1.4       PENGERTIAN BUDAYA ORGANISASI PERUSAHAAN (CORPORATE CULTURE)
Dalam kehidupan masyarakat sehari-hari tidak terlepas dari ikatan budaya yang diciptakan. Ikatan budaya tercipta oleh masyarakat yang bersangkutan, baik dalam keluarga, organisasi, bisnis maupun bangsa. Budaya membedakan masyarakat satu dengan yang lain dalam cara berinteraksi dan bertindak menyelesaikan suatu pekerjaan. Budaya mengikat anggota kelompok masyarakat menjadi satu kesatuan pandangan yang menciptakan keseragaman berperilaku atau bertindak. Seiring dengan bergulirnya waktu, budaya pasti terbentuk dalam organisasi dan dapat pula dirasakan manfaatnya dalam memberi kontribusi bagi efektivitas organisasi secara keseluruhan. Budaya organisasi berkaitan erat dengan pemeberdayaan karyawan (employee empowerement) disuatu perusahaan. Semakin kuat budaya organisasi, semakin besar dorongan para karyawan untuk maju bersama dengan perusahaan. Berdasarkan hal tersebut, pengenalan, penciptaan, dan pengembangan budaya organisasi dalam suatu perusahaan mutlak diperlukan dalam rangka membangun perusahaan yang efektif dan efisien sesuai dengan misi dan visi yang hendak dicapai. Dengan demikian antara budaya organisasi dan budaya perusahaan saling terkait karena kedua-keduanya ada kesamaan, meskipun dalam budaya perusahaan terdapat hal-hal khusus seperi gaya manajemen dan sistem manajemen dan sebagainya, namun semuanya masih tetap dalam rangkaian budaya organisasi Budaya perusahaan adalah aturan main yang ada dalam perusahaan yang akan menjadi pegangan dari SDMnya dalam menjalankan kewajibannya dan nilai-nilai untuk berprilaku di dalam organisasi tersebut.
Ciri-ciri Budaya Organisasi
Menurut Robbins (1996), ada 7 ciri-ciri budaya organisasi adalah:
1. Inovasi dan pengambilan resiko. Sejauh mana karyawan didukung untuk menjadi inovatif dan mengambil resiko.
2. Perhatian terhadap detail. Sejauh mana karyawan diharapkan menunjukkan kecermatan, analisis dan perhatian terhadap detail.
3. Orientasi hasil. Sejauh mana manajemen memfokus pada hasil bukannya pada teknik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut.
4. Orientasi orang. Sejauh mana keputusan manajemen memperhitungkan efek pada orang-orang di dalam organisasi itu.
5. Orientasi tim. Sejauh mana kegiatan kerja diorganisasikan sekitar tim-tim, bukannya individu.
6. Keagresifan. Berkaitan dengan agresivitas karyawan.
7. Kemantapan. Organisasi menekankan dipertahankannya budaya organisasi yang sudah baik.
Dengan menilai organisasi itu berdasarkan tujuh karakteristik ini, akan diperoleh gambaran majemuk dari budaya organisasi itu. Gambaran ini menjadi dasar untuk perasaan pemahaman bersama yang dimiliki para anggota mengenai organisasi itu, bagaimana urusan diselesaikan di dalamnya, dan cara para anggota berperilaku (Robbins, 1996).
Fungsi Budaya Organisasi
Menurut Robbins (1996), fungsi budaya organisasi sebagai berikut :
a. Budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dan yang lain.
b. Budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi.
c. Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri individual seseorang.
d. Budaya merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang tepat untuk dilakukan oleh karyawan.
e. Budaya sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku karyawan.
1.5       PENGARUH BUDAYA ORGANISASI TERHADAP PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN
Budaya organisasi merupakan faktor yang sangat penting di dalam organisasi sehingga efektivitas organisasi dapat ditingkatkan dengan menciptakan budaya yang tepat dan dapat mendukung tercapainya tujuan organisasi. Pengaruh pemanfaatan budaya perusahaan adalah salah satu solusi dalam menghadapi tantangan yang kian kompleks. Bila budaya organisasi telah disepakati sebagai sebuah strategi perusahaan maka budaya organisasi dapat dijadikan alat untuk meningkatkan kinerja.
Dengan adanya pemberdayaan budaya organisasi selain akan menghasilkan sumber daya manusia yang berkualitas, juga akan menjadi penentu sukses perusahaan. Sehingga budaya organisasi memiliki dampak yang berarti terhadap kinerja karyawan yang menentukan keberhasilan dan kegagalan perusahaan. Sedangkan kinerja merupakan peranan yang sangat penting, karena tanpanya organisasi hanya merupakan sekumpulan aktivitas tanpa tujuan atau control tertentu. Budaya organisasi dipahami sebagai seperangkat nilai, kepercayaan, dan pemahaman yang penting sama­ – sama dimiliki oleh para anggota yang berpengaruh terhadap pola kerja serta pola manajemen organisasi.
Secara teoritis budaya organisasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan, kinerja dalam hal ini diartikan sebagai suatu tingkat proses yang dirancang untuk menghubungkan tujuan organisasi dan tujuan individu sedemikian rupa, sehingga baik tujuan individu maupun tujuan organisasi dapat bertemu. Sedangkan kepuasan kerja dalam penelitian ini dianggap sebagai variabel yang sangat penting dalam hubungan dengan budaya organisasi, oleh karena itu kepuasan kerja diartikan sebagai cermin perasaan seseorang terhadap pekerjaannya mengenai selisih antara banyaknya ganjaran yang diterima dan banyaknya yang diyakini seharusnya diterima, serta segala sesuatu yang dihadapi dalam lingkungan kerja.


Kondisi Ekonomi, Politik, Sosial Singapura
Singapura merupakan salah satu negara anggota ASEAN yang terletak di Semenanjung Malaya. Singapura dibatasi oleh Selat Johor di sebelah utara yang memisahkannya dengan Malaysia, dan Selat Singapura di sebelah selatan yang membatasinya dengan Kepulauan Riau, Indonesia. Singapura merupakan negara bekas jajahan Inggris dan oleh karena itu, Singapura menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa mayoritasnya. Walaupun demikian, Singapura tetap menggunakan bahasa Melayu sebagai bahasa ibu atau bahasa nasionalnya. Singapura yang terletak di kawasan rumpun Melayu, kebanyakan warga negaranya malah merupakan masyarakat asing, terutama etnis Tionghoa, yang jumlahnya mencapai 42% dari jumlah total warga Singapura. Singapura dengan kondisi geografinya sebagai negara kecil yang bertempatan diantara Indonesia dan Malaysia ini memiliki potensial soft power (ekonomi maupun industri) yang sangat kuat bila dibandingkan dengan negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Dari segi demografi atau penduduk yang berdomisili di Singapura, mayoritas merupakan etnis Cina yang kemudian diikuti oleh etnis Melayu. Kondisi perpolitikan Singapura mengadopsi sistem Westminster (seperti di Inggris), yang mana kekuasaan berdaulat terletak pada kabinet dan dipimpin oleh Perdana Menteri. Tatkala Singapura adalah negara berbentuk republik perlementer dan telah menetapkan perwakilan demokrasi sebagai sistem politik negara (Asean News Network, t.t).
Sejarah Singapura dimulai sejak tahun 1819 yakni ketika Sir Stamford Raffles berkebangsaan Inggris yang memimpin British East India Company datang ke wilayah ini serta mendirikan sebuah tempat perdagangan di pulau yang menjadikan Singapura sebagai pulau komersial paling makmur di tahun ini. Sejak itu pada tahun 1825 Singapura berkembang pesat ditambah sejak pembukaan terusan Suez tahun 1869, Singapura muncul sebagai negara yang sangat diperhitungkan di Asia Tenggara. Pada tahun 1965 Singapura telah menjadi negara yang independen dan kemudian bergabung dalam persemakmuran bangsa Inggris, yang sebelumnya masih menjadi bagian Federasi Malaysia pada tahun 1963  (Cahyadi, et al. 2004, 2-3). Mengingat asal-usul kemerdekaan Singapura yang sebelumnya menjadi persemakmuran Malaysia (sekalipun Malaysia tidak sepenuhnya menerima keberadaan Singapura) Partai Gerakan Rakyat (PAP) mendominasi persoalan mendasar bagi para pemimpin Singapura, yang mana hal ini dibentuk oleh Lee Kuan Yew dalam menjadikan PAP sebagai partai tunggal. Rejim PAP melihat bahwasannya politik dalam negeri merupakan persoalan dasar bagi kelangsungan negar-kota Singapura, hal ini juga diimplementasi dalam setiap pemilu dari tahun 1959-1997 (Cipto 2007, 132-133).
Berbicara mengenai kemajuan Singapura, aspek yang menarik tentang negara ini adalah karakter budaya penduduknya yang kosmopolitan, hal ini menjadi keuntungan tersendiri bagi Singapura. Sebagai negara yang populer akan komersialnya yang dibangun oleh Raffles, para imigran banyak datang dan membawa budaya, bahasa, adat istiadat, serta kebiasaan mereka ke Singapura. Perkawinan silang dan perpaduan budaya turut berperan dalam mempengaruhi keragaman budaya yang kemudian berbentuk kedalam masyarakat Singapura dari berbagi aspek, sehingga menjadikan warisan budaya yang beragam dan dinamis. Sebagian besar kaum Melayu Singapura adalah Muslim Sunni yang memeluk Islam sebagai agama mereka, salah satu peninggalan budaya mereka yakni Masjid Jamae Chulia yakni dengan gaya arsitektur eklektik serta gerbang masuk yang bergaya India Selatan dan kedua ruang salatnya bergaya neo-klasik (www.yoursingapore.com).
Singapura menganut sistem pemerintahan republik parlementer, dimana seluruh menteri bertanggung jawab terhadap parlemen. Presiden hanya sebagai wujud simbolis, sedangkan kekuasaan berada di tangan Perdana Menteri dan Perdana Menteri memegang kedudukan mayoritas di parlemen. Dalam bidang politik, Singapura dikuasai oleh sebuah partai mayoritas yang disebut Partai Aksi Rakyat (PAP) (Anon, t.t, dalam www.freedomhouse.org, diakses pada 31 Maret 2014). Pada prakteknya, PAP ini cenderung bersifat otoriter dibanding demokratis. PAP tidak mengizinkan adanya partai oposisi, walaupun partai tersebut dianggap bekerja secara efektif untuk kemajuan negara. Akan tetapi, dengan kinerja PAP yang otoriter tersebut, Singapura dapat berkembang menjadi negara yang maju. Hal itu dapat dilihat dari rendahnya tingkat korupsi di Singapura. Selain itu, Singapura juga dinilai sebagai negara hunian yang nyaman karena sistem pemerintahannya yang fokus pada kesejahteraan rakyat dan penyediaan sarana yang memadai.
Singapura, yang merupakan bekas jajahan Inggris, sejak awal memang sudah dikonstruksikan sebagai negara pusat ekonomi oleh penjajahnya. Inggris, pada masa itu, membangun infrastruktur yang dibutuhkan demi mencapai kemajuan Singapura. Tidak heran jika Singapura dapat menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang pesat.  Perekonomian Singapura bergantung pada ekspor dan impor, khususnya di bidang manufaktur. Kondisi politik dan keamanan yang stabil menyebabkan Singapura menjadi tujuan investasi bagi banyak negara. Untuk mendukung pertumbuhan ekonomi tersebut, Singapura juga memutuskan untuk member izin atas dibukanya tempat perjudian dan resor kasino sejak tahun 2005 (Anon, t.t, dalam www.mti.gov.sg diakses pada 31 Maret 2014). Dengan segala perkembangan tersebut, Singapura disebut sebagai negara yang paling terglobalisasi dalam Indeks Globalisasi tahun 2006 (Kearney, t.t).
Singapura memiliki pasukan militer yang paling maju di kawasan Asia Tenggara. Pasukan militer tersebut dibuat untuk mencegah adanya serangan dan memberikan bantuan kemanusiaan ke negara lain. Di Singapura, pria di bawah usia 18 tahun wajib mengikuti National Service selama minimal 2 tahun untuk pelatihan militer yang kemudian diarahkan sebagai serdadu cadangan. Selain itu, Singapura juga tergabung dalam FPDA (Five Power Defence Arrangements), yaitu suatu hubungan pertahanan antara Singapura, Inggris, Australia, Selandia Baru, dan Malaysia, melalui persetujuan multilateral. Walaupun Singapura memiliki pertahanan militer yang baik, Singapura juga fokus pada pertahanan non-militer karena adanya terorisme dan perang non-konvensional.
Dalam perkembangannya, Singapura juga menjalin hubungan diplomatik dengan negara-negara di ASEAN, misalnya saja Indonesia dan Malaysia. Hal itu dikarenakan adanya faktor kedekatan wilayah antara ketiga negara tersebut. Akan tetapi, kerap muncul konflik antarnegara tersebut karena adanya pertentangan politik. Selain itu, Singapura juga berhubungan dekat dengan Brunei Darussalam, dimana Singapura memiliki tempat pelatihan angkatan darat di sana. Tidak hanya di kawasan ASEAN, Singapura juga menjalin hubungan baik dengan negara lain di luar kawasan Asia Tenggara, contohnya China. Kerjasama Singapura dan China dimulai sejak tahun 1990, walaupun Singapura sudah mulai membuka diri pada China sejak tahun 1978. China, yang menganut kebijakan pragmatis, menganggap Singapura memiliki wilayah yang strategis dan infrastruktur yang baik sehingga sangat bagus untuk peluang bisnis. Sedangkan Singapura menganggap China sebagai pasar yang baik untuk Singapura karena modernisasi yang dilakukan oleh China. Salah satu contoh kerjasama kedua negara tersebut adalah Suzhou Industrial Park yang merupakan taman industri internasional dengan teknologi tinggi.
Singapura memang memiliki sejarah kerjasama yang baik dengan negara-negara lain. Akan tetapi, hal itu tidak lantas menghilangkan konflik antara Singapura dengan yang lain. Misalnya saja yang baru-baru ini terjadi adalah konflik Singapura dengan Indonesia atas penamaan KRI Usman Harun. Pengambilan nama tersebut dianggap tidak membuka luka lama Singapura. Usman dan Harun merupakan pahlawan Indonesia yang pada tahun 1965 melakukan pemboman terhadap perkantoran Singapura. Konflik yang menimbulkan korban jiwa tersebut membuat Singapura menganggap kedua marinir itu sebagai teroris.Hal itulah yang mendasari penolakan Singapura atas pemberian nama KRI Usman Harun (Anon, 2014, dalam nasional.news.viva.co.id, diakses pada 31 Maret 2014).
Konflik dengan Indonesia tidak sebatas dalam hal penamaan itu saja, melainkan juga konflik perbatasan wilayah. Singapura dan Indonesia hanya dibatasi oleh Selat Singapura. Dengan itu, Singapura selalu melakukan reklamasi pantai untuk memperluas wilayahnya. Kemudian muncullah masalah ekspor pasir dari Riau dan Singapura yang membuat pemerintah Indonesia akhirnya melarang ekspor tersebut. Hal itu dilakukan karena pasir yang diekspor dari Riau ke Singapura digunakan untuk reklamasi pantai dan sarana pengubah pembatas wilayah.Dilihat dari geografinya, Singapura hanyalah sebuah negara kecil yang berada di Semenanjung Malaka. Akan tetapi, karena adanya konstruksi peninggalan Inggris, Singapura bangkit menjadi negara maju, yang bahkan sangat berperan dalam perekonomian dunia. Kerjasama pun banyak dilakukan Singapura dengan negara-negara maju yang lain untuk menambah kesejahteraan negaranya. Walaupun demikian, konflik tetap tidak bisa dihindari antarnegara tersebut.

Etika Bisnis di Singapura
Singapore terus terpilih sebagai salah satu tempat bisnis yang paling mudah di dunia. Dan juga merupakan tempat perpaduan dari budaya dan perdagangan, dan sebagai tempat bisnis utama dari segala penjuru dunia. Singapore juga merupakan rumah bagi empat bahasa nasional dan beberapa budaya yang berbeda, yang dipengaruhi oleh tradisi dan pengaruh luar lainnya. Ketika menjalankan bisnis di Singapore, pertemuan Anda mungkin akan lebih produktif jika mengetahui beberapa tips dan wawasan mengenai etika.
Singapore adalah sebuah negara kosmopolitan dan umumnya selalu mempertahankan standar internasional dalam bisnis. Terdapat beberapa nuansa yang biasa digunakan oleh orang Singapore dalam menjalankan bisnis. Yang paling utama adalah aturan berpakaian. Negara ini terletak satu derajat agak ke utara dari garis katulistiwa dan cuaca pada umumnya panas dan lembab, sehingga pakaian bisnis (baju dan celana atau rok) tanpa jas atau blazer sudah cukup baik. Anda bahkan tidak perlu menggunakan dasi jika pertemuan tersebut tidak sangat formal.
Dalam pertemuan bisnis, ketika bertemu untuk pertama kalinya, berjabatan tangan sudah cukup. Membungkuk sama sekali tidak diperlukan, kecuali diperlukan dalam budaya tertentu. Jaga kontak tubuh dengan wajar dan tetap sisakan ruang pribadi antara Anda dan lawan bicara Anda. Anda akan menemukan bahwa setelah berjabat tangan, biasanya orang Melayu akan meletakkan sebelah telapak tangan di dada mereka. Ini adalah salam budaya dan Anda tidak perlu melakukan hal yang sama jika Anda bukan keturunan Melayu. Jika masih ragu-ragu, Anda hanya perlu berjabat tangan dengan sopan dan berikan senyuman ramah.
Kartu nama memiliki peranan yang penting di Singapore. Kartu nama dibutuhkan dalam hampir semua pertemua pertama. Standar yang sopan dalam memberikan kartu nama yaitu dengan kedua tangan, dengan tulisan pada kartu nama mengarah pada penerima. Menerima kartu nama juga dilakukan dengan kedua tangan sebagai tanda penghormatan. Ketika menerima kartu nama, akan lebih baik jika melihatnya sebentar, dan memegangnya beberapa saat, kemudian meletakkannya di atas meja, dengan tulisan menghadap ke atas selama pertemuan. Meskipun sebagian besar orang tidak akan tersinggung jika kartu namanya langsung disimpan di kantong, tetapi akan lebih baik jika bisa mengikuti prosesnya.
Di beberapa kantor dan hampir setiap ruangan pribadi, Anda akan diminta untuk melepas sepatu. Ini sangat wajar. Jika diminta, Anda cukup meletakkan sepatu Anda di pintu. Berhati-hatilah dalam memberikan hadiah. Ketika Anda diundang dalam acara sosial oleh rekan bisnis, cukup bagus jika membawa sebotol anggur (atau, jika tuan rumah tidak mengkonsumsi alkohol karena agama, bawalah coklat). Pemberian tip bukanlah suatu kebiasaan di Singapore, tetapi dihargai di sini. Negara ini adalah penghubung global dan merupakan rumah bagi wisatawan dari seluruh dunia. Tetap peka dalam berperilaku dan bertanyalah jika ragu, maka perjalanan bisnis Anda akan menjadi lebih produktif.


Tidak ada komentar:

Posting Komentar