PENGARUH STRUKTUR ORGANISASI TERHADAP KEPUTUSAN
A. Pengambilan Keputusan
Pengambilan keputusan merupakan awal aktivitas organisasi,
yang menyangkut masa depan (Syamsi, 1995). Mengambil keputusan merupakan bagian
dari proses mempertimbangkan, memahami, mengingat dan menalar tentang segala
sesuatu (Dahlan, 2005). Keputusan diambil dengan mengetahui dan merumuskan
masalah dengan jelas, kemudian pemecahan masalah tersebut harus didasarkan
pemilihan alternatif keputusan terbaik (Syamsi, 1995). Dengan demikian
pengambilan keputusan melakukan perbandingan atas beberapa alternatif dan
melakukan evaluasi terhadap manfaatnya (Yustina, 2007).
Pengambilan keputusan merupakan pekerjaan yang paling penting
bagi manajer dan penuh resiko karena keputusan yang salah dapat merugikan
bisnis (Yustina, 2007). Lebih lanjut Newman, (2007) menambahkan bahwa keputusan
yang dibuat para decision makers dapat memiliki resiko serta ketidak pastian
yang tinggi tanpa adanya jaminan keberhasilan keputusan yang dibuat, dalam
kenyataan terkadang proses membuat keputusan (decision making) merupakan sebuah
proses trial and error.
Fenomena mengenai pengambilan keputusan terjadi di DJP.
Menurut David (2005) pengambilan keputusan di Dirjen Pajak belum optimal karena
dalam pengambilan keputusan yang ada masih mengejar keuntungan semata atau
hanya karena dipengaruhi oleh pihak-pihak lain. Selain itu menurut Daniri
(2006) masih belum adanya check & balance dan akuntabilitas yang memadai
serta tidak ada pembagian pengambilan keputusan yang tepat atas perbedaan
pendapat antara wajib pajak dan DJP.
Pelaksanaan keputusan itu sendiri lebih ditekankan pada sifat
kepemimpinan dari orang yang mengambil keputusan (Ibnu Sayamsi 2000: 2). Selain
itu, manajemen dalam menjalankan fungsi dan aktivitas bisnisnya yang meliputi
Planning (Perencanaan), Organizing (Pengorganisasian), Actuating (Pengarahan)
dan Controlling (Pengendalian), senantiasa memerlukan informasi untuk membuat
keputusan(David Kroenke, 1989 : 10).
Mengambil keputusan akan rumit dan sulit apabila informasi yang tersedia
terbatas (Yoel, 2012). Informasi tersebut harus dikelola dengan baik dengan
cara mengatur sumberdaya informasi (Mc. Leod, 2004: 39). Karena informasi yang
tidak akurat, adalah informasi sampah yang tidak ada manfaat-nya bagi
pengambilan keputusan (Anwar Nasution, 2007).
Dari uraian-uraian yang sudah ada secara umum dapat dikatakan
bahwa sistem informasi manajemen merupakan suatu sistem yang dirancang untuk
menyediakan informasi (David, 1985). Sistem informasi manajemen menyediakan
informasi untuk pengabilan keputusan dan pengaruh perhatian baik dalam satuan
keuangan maupun non keuangan bagi manajer (Juseph W. Wikinson, 1993). Para
manajer memerlukan informasi keuangan sebagai dasar untuk mengambil keputusan
mengenai perusahaan atau bagian yang dipimpinnya (Mulyadi, 2012). Oleh karena
itu diperlukan Sistem informasi manajemen (SIM).Waters (2004).
Lebih lanjut Hall (2001) dan McLeod dan Schell (2001)
mengklasifikasikan sistem informasi menjadi Sistem Informasi Akuntansi (SIA)
dan Sistem Informasi Manajemen (SIM), sistem pendukung keputusan (Decision
Support System/DSS), kantor virtual (atau otomasi kantor) dan sistem berbasis
pengetahuan (knowlegde-based system/expert system).
Sistem informasi manajemen merupakan kegiatan yang penting
dalam suatu organisasi atau perusahaan (Switser dan Waters, 2004), sehingga
Moekijat (2000:102), menambahkan bahwa pengembangan suatu sistem informasi
manajemen merupakan keharusan mutlak apabila pimpinan organisasi ingin
melakukan tugas-tugas kepemimpinannya dengan efektif. Karena dengan sistem
informasi manajemen, manajer dapat menerima informasi yang lebih akurat dan
tepat waktu mereka menjadi lebih cepat membuat keputusan sehingga sedikit
manajer yang dibutuhkan dalam struktur organisasi (Laudon, 2007: 107). Dan
dapat membantu perusahaan ke arah pencapaian tujuan dengan sukses (Anthony et
al, 1989; Atkinson et al, 1995).
Fenomena mengenai sistem informasi manajemen terjadi di
instansi Ditjen Pajak yaitu terletak pada komponen sistem informasi manajemen,
dimanahardware yang digunakan oleh Ditjen Pajak kualitasnya belum sesuai dengan
kebutuhan pengguna (Agus Martowardojo dalam Siti Kurnia Rahayu, 2011).
Sedangkan menurut Tobari (2012) hardware yang digunakan oleh Ditjen Pajak kurang
uptodate. Tidak hanya itu pegawai pajak dalam mengakses informasi penerimaan
pajak melalui sistem Modul Penerimaan Negara, informasi tersebut tidak bisa
diakses secara cepat bahkan gagal (Ery, 2011). Kondisi ini disebabkan oleh
bandwidth yang ada di Ditjen pajak masih kecil sehingga apabila banyak diakses
oleh pegawai pajak maka akan menjadi lamat (Tobari, 2012).
Selanjutnya Azhar Susanto (2008: 253) menjelaskan bahwa salah
satu komponen dalam sistem informasi adalah sumber daya manusia yang sangat penting,
karena ikut menentukan kesuksesan organisasi. Secanggih apapun struktur,
sistem, teknologi informasi, metode dan alur kerja suatu organisasi, semua itu
tidak akan dapat berjalan dengan optimal tanpa didukung sumber daya manusia
(SDM) yang capable dan berintegritas. Harus disadari bahwa yang perlu dan harus
diperbaiki sebenarnya adalah sistem dan manajemen SDM, bukan semata-mata
melakukan rasionalisaasi pegawai, karena sistem yang baik dan terbuka dipercaya
akan bisa menghasilkan SDM yang berkualitas (Siti Kurnia Rahayu, 2010: 114).
SDM dalam sistem informasi manajemen merupakan sumberdaya
yang terlibat dalam pengumpulan dan pengolahan data, pendistribusian dan
pemanfaatan informasi (O’brien, 2010). Lebih lanjut Sugeng Wibowo (2011)
menjelaskan bahwa Sistem Informasi Manajemen merupakan suatu proses pengolahan
data yang akan menghasilkan output berupa informasi. Sementara itu struktur
organisasi akan menentukan bagaimana arus informasi tersebut berjalan dalam
suatu organisasi. Karena sistem informasi dibangun untuk mengalirkan informasi
sesuai dengan hirarki dalam struktur organisasi (Scott, 2001: 8).
Semakin besar lapisan hirarki struktur organisasi akan
semakin rumit sistem informasi yang dibangun, selain itu rentang kendali dalam
struktur organisasi juga mempengaruhi sistem informasi (Scott, 2001:10).
Semakin lebar atau besar rentang kendali maka semakin efisien organisasi,
karena mempercepat proses pengambilan keputusan dan meningkatkan fleksibilitas
(Robbins dan Judge, 2007:220). Sistem informasi yang didesain untuk organisasi
merupakan salinan struktur komunikasi antar unit di dalam organisasi, sehingga
kualitas produk sistem informasi sangat dipengaruhi oleh struktur organisasi
(Nagappan et al., 2009:1).
Struktur organisasi yang jelas dan teratur dapat membantu untuk memeproleh
informasi yang dibutuhkan, sebab dalam struktur organisasi yang jelas dan
teratur terdapat tugas dan tanggung jawab masing-masing bagian yang harus
dilakukan (Winardi, 2010). Sementara itu Robins (1990) menambahkan bahwa
struktur organisasi mengacu pada bagaimana tugas pekerjaan dibagi,
dikelompokkan dan dikoordinasikan secara formal. Struktur organisasi merupakan
salah satu sarana yang digunakan manajemen untuk mencapai sasarannya (Robins
dan Judge, 2007:236).
Selama ini struktur organisasi Ditjen Pajak didasarkan pada
jenis pajak. Dengan struktur organisasi seperti ini pelaksanaan tugas di
lapangan seringkali menimbulkan ketidakefisienan yang mengakibatkan pelayanan
dan pengawasan tidak optimal (Djazoeli, 2005). Selanjutnya Nur (2007)
menambahkan bahwa Dirjen Pajak merasa perlu melakukan perubahan struktur
organisasi dari berdasarkan per jenis pelayanan menjadi organisasi dengan
struktur berdasarkan fungsi. Pada April 2007, Dirjen Pajak melakukan perombakan
besar-besaran di kantor pajak, sekitar 30 ribu karyawan berputar posisi, hal
ini membuat beberapa karyawan kebingungan dan menimbulkan demoralisasi di
kantor Pelayanan Pajak (Wibowo, 2008). Belum lagi pegawai yang sering mengeluh
karena pekerjaan yang diemban lebih banyak dari sebelumnya (Tobari, 2012).
Untuk melaksanakan perubahan secara lebih efektif dan
efisien, sekaligus mencapai tujuan organisasi yang diinginkan, penyesuaian
struktur organisasi DJP merupakan suatu langkah yang harus dilakukan dan
sifatnya cukup strategis (Prabu Kresna, 2012). Oleh karena itu, struktur
organisasi harus juga diberi fleksibilitas yang cukup untuk dapat selalu
menyesuaikan dengan lingkungan eksternal yang sangat dinamis, termasuk
perkembangan dunia bisnis dan teknologi (Siti Kurnia Rahayu, 2010).
B. Struktur Organisasi
Pengertian Struktur Organisasi Pengertian Struktur Organisasi
menurut Stephen P. Robbins dalam Tim Indeks (2006:585) adalah: “Kerangka kerja
formal organisasi yang dengan kerangka kerja itu tugas-tugas pekerjaan
dibagi-bagi dikelompokan, dan dikoordinasikan”. Pengertian Struktur Organisasi
menurut Hasibuan (2004:128)
“Struktur organisasi yaitu mengambarkan tipe organisasi, pendepartemnan
organisasi, kedudukan dan jenis wewenag pejabat, bidang dan hubungan pekerjaan,
garis perintah dan tanggung jawab, rentang kendali dan sistem pemimpinan
organisasi”. Sedangkan Pengertian Struktur Organisasi menurut Richard M.
Steersdalam M. Jamin (1985:70)
adalah : “Struktur Organisasi merupakan cara selaras dalam
menempatkan manusai sebagai bagian organisasi pada suatu hubungan yang relatif
tetap, yang sangat menetukan pola-pola interaksi, koodinasi dan tingkah laku
yang berorientasi pada tugas”. Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas
maka penulis dapat menarik kesimpulan bahwa Struktur Organisasi adalah pola
hubungan antara individu dalam suatu kelompok sosial dalam melaksanakan tugas
atau pekerjaan secara formal dibagi, dikelompokkan dan dikoordinasikan sehiga
merupakan sebuah kesatuan yang harmonis yang diarahkan secara trus menerus pada
satu tujuan tertentu.
- Indikator Struktur Organisasi
Suatu Struktur Organisasi menetapkan cara tugas pekerjaan dibagi,
dikelompokkan dan dikoordinasi secara formal. Adapun indikator mengenai
Struktur Oraganisasi menurut Stephen Robbins dalam Tim Indeks (2006: 585-593)
adalah sebagai berikut :
1. Spesialisasi Kerja :
Spesialisasi maksudnya adalah sampai tingkat mana tugas dalam organisasi dipecah-pecah menjadi pekerjaan yang terpisah-pisah. Hakikatnya, daripada dilakukan satu individu, lebih baik pekerjaan tersebut dipecah menjadi sejumlah langkah dan tiap langkah dilaksanakan oleh individu yang berlainan. Spesialisasi meningkatkan efisiensi, tapi pada tingkat tertentu, spesialisasi menimbulkan kerugian-kerugian. Contoh kerugian yang mungkin timbul adalah kebosanan, kelelahan, stres, produktifitas kerja rendah, kualitas kerja buruk, meningkatkan mangkir kerja/membolos, bahkan pada perusahaan swasta bisa meningkatkan jumlah pekerja yang keluar dari perusahaan.
Spesialisasi maksudnya adalah sampai tingkat mana tugas dalam organisasi dipecah-pecah menjadi pekerjaan yang terpisah-pisah. Hakikatnya, daripada dilakukan satu individu, lebih baik pekerjaan tersebut dipecah menjadi sejumlah langkah dan tiap langkah dilaksanakan oleh individu yang berlainan. Spesialisasi meningkatkan efisiensi, tapi pada tingkat tertentu, spesialisasi menimbulkan kerugian-kerugian. Contoh kerugian yang mungkin timbul adalah kebosanan, kelelahan, stres, produktifitas kerja rendah, kualitas kerja buruk, meningkatkan mangkir kerja/membolos, bahkan pada perusahaan swasta bisa meningkatkan jumlah pekerja yang keluar dari perusahaan.
2. Departementalisasi : Departementalisasi maksudnya adalah dasar yang
dipakai dalam pengelompokan pekerjaan sehingga tugas yang sama atau mirip dapat
dikoordinasikan dengan lebih baik. Penggolongan pekerjaan dapat dilakukan atas
dasar fungsi, produk, lokasi/geografi, pelanggan, atau kategori lain.
3. Rantai Komando : Rantai Komando adalah garis tidak terputus dari
wewenang yang tertentu, dari puncak organisasi sampai ke eselon terbawah.
Intinya, rantai komando memperjelas siapa melapor ke siapa. Agar berjalan
dengan baik, rantai komando memerlukan dua unsur pelengkap, yaitu:
1) Wewenang, yaitu hak-hak yang melekat dalam posisi
manajerial untuk memberi perintah dan mengharapkan agar perintah itu dipatuhi.
2) Kesatuan komando, yaitu seorang bawahan seharusnya punya
satu atasan kepada siapa ia bertanggung jawab langsung.
4. Rentang Kendali : Rentang kendali adalah jumlah bawahan yang dapat
diatur manajer secara efektif dan efisien. Dalam rentang kendali yang lebar,
terdapat efisiensi dalam hal biaya, tetapi kurang efektif, karena
penyelia/supervisor/atasan tidak punya cukup waktu untuk memberi kepemimpinan
dan dukungan kepada bawahan. Sedangkan jika rentang kendalinya kecil,
konsekwensinya adalah adanya kontrol yang akrab. Meskipun demikian, akibat
negatifnya adalah
1) Mahal, karena harus menambah tingkat manajemen.
2) Komunikasi vertikal menjadi rumit karena hirarki tambahan memperlambat
pengambilan keputusan.
3) Cenderung pengawasannya lebih ketat dan berlebihan sehingga tidak
mendorong otonomi karyawan. Kecenderungan dalam praktek manajemen adalah
rentang kendali yang lebar.
5. Sentralisasi dan Desentralisasi : Sentralisasi adalah tingkat dimana
pengambilan keputusan dipusatkan pada suatu titik tunggal dalam organisasi.
Sedangkan dalam desentralisasi ada keleluasaan, dimana pengambilan keputusan
didorong ke bawah pada tingkat pekerja terendah.
6. Formalisasi : Formalisasi adalah suatu tingkat dimana pekerjaan dalam
organisasi itu dibakukan. Jika pekerjaan sangat diformalkan, pelaksana
pekerjaan hanya punya sedikit keleluasaan tentang apa yang harus dikerjakan,
kapan harus dikerjakan, dan bagaimana seharusnya mengerjakannya. Dalam
formalisasi, siapapun yang melaksanakan pekerjaan, dengan input dan proses yang
sama, maka akanmenghasilkan output yang konsisten dan seragam. Dalam kondisi
formalisasi yang tinggi terdapat:
1) Uraian jabatan yang tersurat,
2) Banyak aturan organisasi,
3) Prosedur yang terdefinisi dengan jelas yang meliputi proses kerja dalam
organisasi.
C. Sistem Informasi Manajemen
Pengertian Sistem Informasi Manajemen Pengertian Sistem
menurut Mulyadi (2008 : 5) adalah sebagai berikut : “Sekelompok dua atau lebih
komponen-komponen yang saling berkaitan (subsistemsubsistem yang bersatu untuk
mencapai tujuan yang sama)”. Pengertian Sistem menurut Winarno (2006 : 114)
adalah sebagai berikut : “Sekumpulan komponen yang saling bekerja sama untuk
mencapai tujuan tertentu”.
Pengertian Sistem menurut McLeod (2001: 11) adalah sebagai
berikut: “Asistem is a group of elements that are integrated with the common
porpose of achieving an objective”. Sistem adalah sekelompok elemen yang
terintegritasi dengan maksud yang sama untuk mencapai suatu tujuan. Pengertian
Informasi menurut Jogiyanto (2005; 8) adalahsebagai berikut : “Informasi
diartikan sebagai data yang diolah menjadi bentuk yang lebih berguna dan lebih
berarti bagi yang menerimanya” . Pengertian Informasi menurut Kusrini (2007:7)
adalah sebagai berikut : “Informasi adalah data yang sudah diolah menjadi
sebuah bentuk yang berguna bagi pengguna yang bermanfaat dalam pengambilan
keputusan saat ini atau mendukung sumber informasi”.
Pengertian Informasi menurut McLeod (2001: 15) adalah sebagai
berikut: “Data yang telah diproses, atau data yang memiliki arti”. Sedangkan
pengertian Sistem Informasi menurut Husain dan Wibowo (2002) adalah sebagai
berikut : ”Sistem Informasi adalah seperangkat komponen yang saling berhubungan
yang berfungsi mengumpulkan, memproses, menyimpan dan mendistribusikan
informasi untuk mendukung pembuatan keputusan dan pengawasan dalam organisasi”.
Definisi Sistem Informasi menurut Azhar Susanto (2008:52)
adalah sebagai berikut : “Sistem informasi adalah kumpulan dari subsistem
apapun baik phisik ataupun non phisik yang saling berhubungan satu sama lain
dan bekerja sama secara harmonis untuk mencapai satu tujuan yaitu mengolah data
menjadi informasi yang berarti dan berguna”.
Sedangkan menurut definisi dari Robert A.leitch dan K.Roscoe
Davis dalam Jogiyanto (2005;11) adalah sebagai berikut: “Sistem informasi
adalah suatu sistem didalam suatu organisasi yang mempertemukan kebutuhan
pengolahan transaksi harian , mendukung operasi ,bersifat manajerial dan
kegiatan strategi dari suatu organisasi dan menyediakan pihak luar tertentu
dengan laporan-laporan yang diperlukan”.
Sedangkan pengertian Sistem Informasi Manajemen (SIM) Scoot,
dalam Komarudin dan Sastradipoera (2005: 1) adalah sebagai berikut :
“Serangkaian sub-sistem informasi yang menyeluruh dan terkoordinasi dan secara
rasional terpadu dalam mentrasformasi data, sehingga menjadi informasi melalui
serangkaian cara untuk meningkatkan produktivitas yang sesuai dengan gaya dan
sifat manajer atas dasar kretiria mutu yang telah ditetapkan”.
Pengertian Sistem Informasi Manajemen (SIM) menurutFrederick
H.Wudalam Jogiyanto (2005 : 14) SIM adalah sebagai berikut : “Kumpulan dari
manusia dan sumber daya modal didalam suatu organisasi yang bertangung jawab
mengumpulkan dan mengelola data untuk menghasilkan informasi yang berguna untuk
semua tingkatan manajemen di dalam kegiatan perencanaan dan pengendalian”.
Sedangkan menurut Gordon.B Davisdalam Jogiyanto (2005: 15)
adalah sebagai berikut : “Sistem Informasi Manajemen merupakan suatu sistem
yang melakukan fungsi-fungsi untuk menyediakan semua informasi yang
mempengaruhi semua operasi organisasi”.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas maka penulis
dapat menarik kesimpulan bahwa Sistem Informasi Manajemen adalah seluruh
rangkaian aktivitas kerja sistem informasi yang membentuk satu kesatuan sistem
dengan tujuan yang sama melalui proses pengumpulan, penyimpanan, pengolahan
sampai akhirnya menghasilakan informasi yang berguna bagi seluruh anggota
organisasi (pemimpin dan staf) untuk membuat kebijakan atau menentukan
keputusan menjadi lebih baik berkenaan dengan kepentingan organisasi.
D. Indikator Sistem Informasi Manajemen
Adapun indikator sitem informasi manajemen menurut Gordon B.
Davis dalam Bob Widyahartono (1991: 60) adalah sebagai berikut:
1. Hardware (Perangkat Keras). Perangkat keras bagi suatu sistem informasi
manajemen terdiri dari masukan/keluaran, unit penyimpanan file, peralatan
penyimpanan data dan terminal masukan.
2. Software (Perangkat Lunak). Perangkat lunak dapat dibagi dalam tiga
jenis utama:
a. Sistem perangkat lunak umum, seperti sistem pengoperasian
dan manajemen data yang memungkinkan pengoperasian sistem komputer.
b. Aplikasi perangkat lunak umum, seperti model analisis dan
keputusan.
c. Aplikasi perangkat lunak yang terdiri dari program yang
secara spesipik dibuat untuk setiap aplikasi.
3. Database/File. File yang berisikan program dan data dibuktikan dengan
adanya media penyimpanan fisik yang disimpan di perpustakaan file. File juga
meliputi keluaran tercetak dalam catatan lain atas kertas, mikro film dan
sebagianya.
4. Prosedur. Prosedur merupakan komponen fisik, berbentuk fisik seperti
buku panduan dan instruksi. Tiga jenis prosedur yang dibutuhkan yaitu: a.
Intruksi untuk pemakai, b. Intruksi untuk penyiapan masukan, c. Intruksi
pengoperasian untuk karyawan pusat komputer.
5. Brainware (Personalia Pengoprasian). Operator komputer, analisa sistem,
pembuatan program, personalia penyiapan data, pimpinan sistem informasi.
6. Jaringan Sumber daya jaringan merupakan media komunikasi
yangmenghubungkan komputer, pemroses komunikasi, dan peralatan lainnya serta
dikendalikan melalui software komunikasi.Sumber daya jaringandapat berupa media
komunikasi seperti kabel, satelit, seluler dan dukunganjaringan seperti modem,
software pengendali serta prosesor antar jaringan.
E. Pengambilan Keputusan Manajemen
Pengertian Pengambilan Keputusan Manajemen Pengertian
Keputusan menurut Ukas (2004: 140) adalah sebagai berikut: “Serangkaian dari
pada proses pemikiran tentang suatu masalah yang dihadapi. Kejituan setiap
tindakan yang diambil oleh manajer sangat mentukan terhadap untuk keputusan
yang diambilnya dan kemungkinan keberhasilan dalam mencapai tujuan yang
digunakan”.
Menurut Ibnu Syamsi (2000: 7), keputusan adalah sebagai berikut:
“Hasil dari pemecahan masalah yang dihadapinya dengan tegas” Pengertian Keputusan
menurut Salusu (1996: 51) adalah sebagai berikut: “Sebuah kesimpulan yang
dicapai sesudah dilakukan pertimbangan ialah menganalisis beberapa kemungkinan
atau alternatif, sesudah itu dipilih satu diantaranya”.
Pengertian Pengambilan Keputusan menurut Endah Murtana Sari (2009)
adalah sebagai
berikut : “Tindakan manajemen dalam pemilihan alternatif untuk mencapai sasaran”.
berikut : “Tindakan manajemen dalam pemilihan alternatif untuk mencapai sasaran”.
Pengertian Pengambilan Keputusan menurut Moekijat (2005 : 137)
adalah sebagai berikut : “Merupaka suatu proses pemilihan dari beberapa
alternatif yang dapat bersifat kuantitatif atau kualitatif, alternatif yang
terbaik untuk memecahkan masalah atau menyelesaikan suatu pertentengan”.
Pengertia Pengambilan Keputusan menurut pendapat Siagian
(2006: 19) adalah sebagai
berikut : “Inti kepemimpinan karena pengambilan keputusan adalah kegiatan intelektual yang secara sadar dilakukan olehseseorang sehingga lebih menjamin bahwa hal-hal yang dihadapi oleh organisasi telah diperhitungkan sebelumnya dan dengan demikian terhindar dari berbagai jenis pendekatan”. maksud untuk mencapai tujuan organisasi secara efesien dan efektif”.
berikut : “Inti kepemimpinan karena pengambilan keputusan adalah kegiatan intelektual yang secara sadar dilakukan olehseseorang sehingga lebih menjamin bahwa hal-hal yang dihadapi oleh organisasi telah diperhitungkan sebelumnya dan dengan demikian terhindar dari berbagai jenis pendekatan”. maksud untuk mencapai tujuan organisasi secara efesien dan efektif”.
Berdasarkan beberapa pendapat para ahli di atas maka penulis dapat
menarik kesimpulan pada hakekatnya pengambilan keputusan adalah suatu
pendekatan dan proses penentuan keputusan yang terbaik dari sejumlah alternatif
untuk aktivitas dan kegiatan pada masa yang akan datang yang diambil oleh
manajemen/ manajerial untuk mencapai tujuan yang diinginkan.
F. Indikato Pengambilan Keputusan Manajemen
Indikator Pengambilan Keputusan Manajemen Indikator Pengambilan
Keputusan menurut Ibnu Syamsi (2002: 12) adalah sebagai berikut :
1. Tujuan. Tujuan tersebut harus disesuaikan dengan tingkat relevansi
dengan kebutuhan, kejelasan dan kemampuan mempredeksi.
2. Identifikasi Alternatif Identifikasi alternatif maksudnya adalah untuk
mencapai tujuan tersebut, kiranya perlu dibuatkan beberapa alternatif, yang
nantinya perlu dipilih salah satu yang dianggap paling tepat.
3. Faktor yang tidak dapat diketahui sebelumnya. Faktor yang tidak dapat
diketahui sebelumnya artinya adalah keberhasilan pemilihan alternatif itu baru
dapat diketahui setelah putusan itu dilaksanakan. Waktu yang akan datang tidak
dapat diketahui dengan pasti. Oleh karena itu kemampuan pimpinan untuk
memperkirakan masa yang akan datang sangat menentukan terhadap berhasil
tidaknya keputusan yang akan dipilihnya.
4. Dibutuhkan sarana untuk mengukur hasil yang dicapai. Dibutuhkan sarana
untuk mengukur hasil yang dicapai maksudnya adalah, masing-masing alternatif
pelru disertai akibat positif dan negatifnya, termasuk sudah diperhitungkan
didalamnya uncontrollable evnts-nya. Alternatif-alternarif mengunakan sarana
atau alat untuk mengukur yang akan diproleh atau pengeluaran yang perlu
dilakukan dari setiap kombinasi alternatif keputusan dan pristiwa diluar
jangakauan manusia itu.
G. Pengaruh Struktur Organisasi Terhadap
Pengambilan Keputusan Manajemen
Menurut Syamsi (2000: 23) mengemukakan salah satu faktor yang
mempengaruhi pengambilan keputusan adalah keadaan internal organisasi, keadaan
internal organisasi bersangkut paut dengan apa yang ada dalam organsasi
tersebut, keadaan internal organisasi antaralain meliputi dana yang tersedia,
keadaan sumber daya manusia, kemampuan karyawan, kelengkapan dari peralatan
organisasi dan struktur organisasi.
Dengan struktur organisasi yang sesuai dengan perusahaan akan
semakin lebih efisien dalam pengambilan keputusan dalam perusahaan (M. Fitiri
dan Widho, 2002). Selanjutnya dalam penelitian yang dilakukan oleh Muhammad
Ridah Suaib (2008) menyatakan bahwa struktur organisasi mempengaruhi
peningkatan kinerja karyawan terutama didukung dengan adanya ketepatan
pembagian tugas dan tanggung jawab.
Hasil penelitian tersebut didukung oleh Robins (1996) yang
menyatakan bahwa: “Struktur organisasi merupakan alat pengendalian
organisasional yang menunjukkan tinggkat pelimpahan wewenang pimpinan puncak
dalam pembuatan keputusan yang secara ekstrim dikelompokkan menjadi dua, yaitu
sentralisasi dan desentralisasi”.
Sedangkan Widjajanto (2001; 18) juga menambahkan bahwa:
“Struktur Organisasi adalah struktur hierarki yang menujukan suatu susunan
pembagian tangung jawab menurut pungsi hirarkis yang ditunjukan untuk
pengambilan keputusan individu dalam suatu organisasi”.
Berdasarkan kerangka berfikir di atas maka hipotesis dalam
penelitian ini adalah pengaruh Struktur Organisasi dan Sistem Informasi
Manajemen terhadap Pengambilan Keputusan Manajemen pada KPP Kanwil Jawa Barat
I. Baik secara simultan maupun parsial.

Gambar 1. Skema Kerangka Penelitian
H. Objek Dan Metode Penelitian
- Objek
Penelitian
Objek penelitian dalam penelitian ini
adalah struktur organisasi, sistem informasi manajemen dan pengambilan
keputusan manajem. Penelitian ini dilaksanakan pada Kantor Pelayanan Pajak di
Kanwil Jawa barat I.
2. Metode Penelitian
Dalam melakukan penelitian ini, penulis menggunakan
penelitian deskriptif dan verifikatif. Dengan menggunakan metode penelitian
akan diketahui hubungan yang signifikan antara variable yang diteliti sehingga
menghasilkan kesimpulan yang akan memperjelas gambaran mengenai objek yang
diteliti.
I. Desain Penelitian
Langkah-langkah desain penelitian menurut Menurut Sugiyono (2011:13)
menyatakan bahwa:
1. Sumber Masalah Membuat identifikasi masalah berdasarkan latar belakang
penelitian sehingga mendapatkan judul sesuai dengan masalah yang ditemukan.
Identifikasi masalah diperoleh dari adanya fenomena yang terjadi di masyarakat.
Dalam penelitian ini penulis mengambil judul Pengaruh Struktur Organisasi (X1)
dan Sistem Informasi Manajemen (X2) terhadap Pengambilan Keputusan Manajemen
(Y).
2. Rumusan Masalah. Rumusan masalah merupakan pertanyaan yang akan dicari
jawabannya melalui pengumpulan data. Adapun rumusan masalah dalam penelitian
ini adalah :
5. Bagaimana struktur organisasi pada KPP di Kanwil Jawa
Barat I.
6. Bagaimana sistem informasi manajemen pada KPP di Kawil Jawa
Barat I.
7. Bagaimana pengambilan keputusan manajemen pada KPP di
Kanwil Jawa Barat I.
8. Seberapa besar pengaruh struktur organisasi dan sistem
informasi manajemen terhadap pengambilan keputusan manajemen pada KPP di Kanwil
Jawa Barat I.
3. Konsep dan teori yang relevan dan penemuan yang relevan Untuk menjawab
rumusan masalah yang sifatnya sementara (berhipotesis), maka peneliti mengkaji
teori-teori yang relevan dengan masalah. Selain itu penemuan penelitian
sebelumnya yang relevan juga digunakan sebagai bahan untuk memberikan jawaban
sementara terhadap masalah penelitian (hipotesis). Telaah teoritis mempunyai
tujuan untuk menyusun kerangka teoritis yang menjadi dasar untuk menjawab
masalah atau pertanyaan penelitian yang merupakan tahap penelitian dengan
menguji terpenuhinya kriteria pengetahuan yang rasional.
4. Pengajuan hipotesis Jawaban terhadap rumusan masalah yang baru didasarkan
pada teori dan didukung oleh penelitian yang relevan, tetapi belum ada
pembuktian secara empiris (faktual). Hipotesis yang dibuat dalam penelitian ini
adalah terdapat pengaruh struktur organisasi dan sistem informasi manajemen
terhadap pengambilan keputusan manajemen (survey pada 10 KPP di Kanwil Jawa
Barat I)
5. Metode penelitian Dalam melakukan penelitian penulis menggunakan metode
descriptive analysis dan verifikatif. Metode descriptive analysis digunakan
untuk menjawab rumusan masalah pertama, kedua dan ketiga yaitu:
1. Bagaimana struktur organisasi pada KPP di Kanwil Jawa Barat
I.
2. Bagaimana sistem informasi manajemen pada KPP di Kawil Jawa
Barat I.
3. Bagaimana pengambilan keputusan manajemen pada KPP di
Kanwil Jawa Barat I. Sedangakan metode verifikatif digunakan untuk menjawab
rumusan masalah keempat yaitu:
4. Seberapa besar pengaruh struktur organisasi dan sistem
informasi manajemen terhadap pengambilan keputusan manajemen pada KPP di Kanwil
Jawa Barat I.
6. Menyusun instrumen penelitian Setelah metode penelitian yang sesuai
dipilih, maka peneliti dapat menyusun instrumen penelitian. Instrumen ini
digunakan sebagai alat pengumpul data. Instrumen pada penelitian ini berbentuk
kuesioner, untuk pedoman wawancara. Sebelum instrumen digunakan untuk
pengumpulan data, maka instrumen penelitian harus terlebih dulu diuji validitas
dan reabilitasnya. Dimana validitas digunakan untuk mengukur kemampuan sebuah
alat ukur dan reabilitas digunakan untuk mengukur sejauh mana pengukuran tersebut
dapat dipercaya. Setalah data terkumpul maka selanjutnya dianalisis untuk
menjawab rumusan masalah dan menguji hipotesis yang diajukan dengan teknik
statistik tertentu. Selanjutnya peneliti menganalisis dan mengambil sampel
untuk melakukan penelitian mengenai:
1. Struktur organisasi yang diperoleh dari data kuesioner yang
akan diisi oleh Pegawai Pajak pada KPP di Kanwil Jawa Barat I.
2. Sistem informasi manajemen yang akan diisi oleh Pegawai
Pajak pada KPP di Kawil Jawa Barat I.
3. Pengambilan keputusan manajemen yang akan diisi oleh
Pegawai Pajak pada KPP di Kanwil Jawa Barat I. Selanjutnya penulis mulai
menggunakan perhitungan dengan menggunakan MSI (Method Succesive Interval)
untuk menaikkan skala ordinal menjadi interval, sebagai syarat untuk menggunakan
analisis regresi linier berganda.
7. Kesimpulan Kesimpulan adalah langkah terakhir berupa jawaban atas
rumusan masalah. Dengan menekankan pada pemecahan masalah berupa informasi
mengenai solusi masalah yang bermanfaat sebagai dasar untuk pembuatan
keputusan.
J. Kesimpulan
Berdasarkan hasil penelitian mengenai pengaruh Struktur
Organisasi dan Sistem Informasi Manajemen terhadap Pengambilan Keputusan
Manajemen pada KPP di KanwilJawa Barat I, dapat ditarik kesimpulan sebagai
berikut:
1. Struktur organisasi pada Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat I
secara umum sudah baik. Berdasarkan spesialisasi pekerjaan, departementalisasi,
rantai komando, rentang kendali, sentralisasi & desentralisasi serta
formalisasi sudah termasuk dalam katagori baik bahkan pada indicator rantai
komando termasuk dalam katagori sangatbaik.
18
18
2. Sistem informasi manajemen yang digunakan pada Kantor Pelayanan Pajak di
Kanwil Jawa Barat I secara umum sudah baik. Demikian juga bila dilhat
berdasarkan indicator hardware, software, data base, prosedur, brainware dan
Jaringan semuanya sudah termasuk baik. Hanya saja pada indicator jaringan yang
digunakan sebagian besar Kantor PelayananPajak di KanwilJawa Barat I masih
tidak bisa di akses secara cepat.
3. Secara keseluruhan pengambilan keputusan manajemen pada Kantor Pelayanan
Pajak di Kanwil Jawa Barat I secara umum sudah baik. Berdasarkan indicator
tujuan, indentifikasi alternative jawaban, faktor yang tidak dapat diketahui
dan sarana untuk menguku rhasil yang dicapai termasuk dalam katagori baik.
4. Strukturorganisasi dan sisteminformasi manajemen memberikan pengaruh
yang besar terhadap pengambilan keputusan manajemen pada Kantor Pelayanan Pajak
di Kanwil Jawa Barat I. Struktur Organisai dan sisteminformasi manajemen adalah
salah satu pengaruh dalam proses peningkatan pengambilan keputusan manajemen.
Arah hubungan positif menunjukan bahawa semakin baik struktur organisasi dan
system informasi manajemen maka akan meningkatkan pengambilan keputusan pada
Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat I. Sebaliknya semakin tidak baik
struktur organisasi dan sisteminformasi manajemen maka akan menerunkan
pengambilan keputusan manajemen.
K. Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan bahwa Struktur
Organisasi dan Sistem Informasi Manajemen telah terbukti memberikan pengaruh
yang positif terhadap Pengambilan Keputusan Manajemen yang dihasilkan pada KPP
di Kanwil Jawa Barat 1 untuk itu peneliti mencoba memberikan saran yang mungkin
dapat dijadikan masukkan kepada KPP di Kanwil Jawabarat 1 antaralains
ebagaiberikut:
1. Struktur organisasi pada Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat I
sudah baik. Namun apabila dilihat pada komponen rentang kengndali perlu
ditingkatkan kembali. Pendistribusian tugas dari atasan kebawahan pimpinan
lebih memperhatikan beban kerja yang akan di emban oleh pegawi dalam organisasi
dan penyesuaian jumlah personil dan jabatan agar sesuai dengan struktur
organisasi.
2. Sistem informasi manajemen pada Kantor Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa
Barat I secara umum sudah baik. Namun apabila dilihat darikomponen jaringan dan
hardware perlu ditingkatkan lagi dengan cara menambah kapasitas bandwidth
menjadi lebih tinggi supaya dalam penyampaian informasi dapat diakses secara
cepat dan tidak membuang waktu sedangkan hardware diperbaharui (lebih uptodate)
dan menggunakan komponen hardware yang lebih tinggi dan terbaru sehingga system
informasi manajemen dalam menyampaikan informasi lebih cepat, efesien dan
sesuai dengan kebutuhan.
3. Pada dasarnya pengambilan keputusan manajemen yang ada pada Kantor
Pelayanan Pajak di Kanwil Jawa Barat I sudah baik. Namun apabila dilihat dari
komponen identifikasi alternatif perlu ditingkatkan lagi. Untuk itu organisasi
perlu memperhatikan, memahami, mengingat tentang resiko yang akan ditimbulkan
dari proses pengambilan keputusan tidak hanya itu organisasi juga harus memilih
beberapa alternative dan melakukan evaluasi baik buruknya terhadap manfaat dari
alternatif tersebut. Sehingga dapat mengambil keputusan dengan tepat.
4. Karena pengaruh struktur organisasi dan system informasi manajemen
memiliki pengaruh yang kuat terhadap pengambilan keputusan manajemen, maka
diharapkan Kantor Pelayanan Pajakdi Kanwil Jawa Barat I dapat mempertahankan
keduanya, sehingga akan lebih efektif dalam meningkatkan pengambilan keputusan
manajemen.
DAFTAR PUSTAKA
Agung Darono. (2009). Pengembangan Sistem Informasi Manajemen Pajak
Berbasis Financial Information Sistem Model: Suatu Kajian Pendahuluan. Seminar
Nasional Aplikasi Teknologi Infromasi 2009, 39-45.
Ahmad Firman (2011). Pengaruh Sistem Informasi Manajemen Terhadap
EfektivitasPengambilan Keputusan. Jurnal Ilmiah Masagena Kopertis, Volome, VI
(Nomor. 2).
Ali akbar. (2010). Peranan Sistem Informasi Manajemen Berbasis Komputer
dalam Pemrosesan Data Pengambilan. Jurnal Ekonomika, Volume II, (Nomor I.),
87-96.
Arikunto, Suharsimi. (2002). Prosedur Penelitian, Suatu Pendekatan Praktek.
Jakarta: PT. Rineka Cipta.
Atkinson, Anthony A., Rajiv D. Baker., Robert S. Kaplan & S. Mark
Young. (1995). Management Accounting, Englewood Cliffs, New Jersey: Prentice
Hall Inc.
Azhar Susanto. (2009). Sistem Informasi Manajemen (Pendekatan Terstruktur
Resiko Pengembangan). Bandung: Lingga Jaya.
Azhar Susanto. (2008). Sistem Informasi Akuntansi. Jakarta: Gramedia.
Dahlan Siamat. (2005). Manajemen Lembaga Keuangan. “Kebijakan Moneter dan
Perbankan”,Jakarta : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, edisi kesatu.
Daniri.(2006). Majalah Berita Pajak Diakses Tanggal 24 Oktober 2012. http://forum-pajak@yahoogroups.com
David. (2005). Pengambilan Keputusan dalam SIM . Diakses Tanggal 27 Oktober
2012 http://auliayoel.blogspot.com
David. B. Gordon. 1985. Sistem Informasi Manajemen, Jakarta. PT. Pustaka
Binaman Pressindo, Jilid 1.
Dayat Subeki. (2009). System Pendukung Pengambilan Keputusan dalam
Manajerial Pembuatan Keputusan. Teknomatika, Vol. 2 (No. 1), 76-82.
Diana Rahmawati. (2005). Peranan Teknologi Informasi dalam hubungan
Struktur Organisasi dengan Lingkungan.
Djazoeli Sadhani. (2005). Menuju Good Governance Melalui Modernisasi
Perpajakan. Diakses 23 Mei 2005 dari World Wide Web: http://www.pajakonline.com
Fitri Rahmandana & Widho Bijaksana. (2002). Pengaruh Sistem Informasi
Manajemen dan Struktur Organisasi Terhadap Efektivitas Pengambilan Keputusan
pada Kantor Pelayanan Bea dan Cukai Tipe A Belawan. Jurnal Ilmiah”Manajemen
& Bisnis, (No. 02), Vol. 02.
Ghozali, Imam. (2006). Analisis Multiate dengan SPSS. Edisi 4. Unipersitas
Diponogoro.
Gordon. B. Davis. (1991). Konsep Dasar Sistem Informasi Manajemen, Struktur
dan Pengembanganya (Alih Bahasa Bob Widyahartono. Jakarta : PT Pustaka Binamon
Pressindo.
Guilford, J.P. (1956). Fundamental Statistics in Psychology and Education.
(p. 145). New York: McGraw Hill. Gujarati. (2003). Basic Economic Materia.
United States of American.
Hall. A. James. (2001). Sistem Informasi Akuntansi 11. Jakarta: Salemba
Empat.
Hays, W.L. (1969). Statistics, London : Holt, Rinehart & Winston.
Husein & Wibowo. (2000). Sistem Informasi Manajemen. UPP AMP YKPN.
Edisi Pertama.
Husein, Fakhri danWibowo. (2002). Sistem Informasi Manajemen. Yogyakarta:
AMP YKPN Indrajit, Richardus Eko, Pengantar Konsep Dasar Manajemen Sistem
Informasi dan Teknologi Informasi. Jakarta: Alex Media Komputindo.
Ibnu Syamsi. (2000). Pengambilan Keputusan dan Sistem Informasi . Jakarta:
Bumi Aksara.
Ibnu Syamsi. (1995). Pengambilan Keputusan dan Sistem Informasi. Jakarta:
Bumi Aksara.
Imam Ghozali. 2006. Aplikasi Analisis Multivariate dengan Program SPSS.
Cetakan keempat. Semarang: Badan Penerbit Universitas Diponegoro.
Iqbal Hasan, M. (2002). Pokok-Pokok Pengambilan Keputusan. Jakarta :
Ghalia. Jogiyanto. (2005). Sistem Teknologi Informasi (Edisi 2). Yogyakarta:
Andi.
Jogiyanto. (2005). Analisis dan Desain Sistem Informasi: Pendekatan
Terstruktur Teori dan Praktek Aplikasi Bisnis. Yogyakarta: Andi. Kroenke,
David, 1989, Management Information System, Mc.
Graww hill. Kusrini, & Ahmad, K. (2007). Tuntunan Praktis Membangun
Sistem Informasi Akuntansi dengan Visual Basic dan Microsoft SQL Server.
Yogyakarta: Andi.
Laudon, Kenneth C., Laudon, Jane P. (2007). Management information Systems
Managing The Digital Firm. 10th Edi-tion. Pearson Education, Inc: Pearson.
Malayu Hasibuan. (2004). Manajemen Semberdaya Manusia. Bandung:
CV.Alphabeta.
McLeod. Raymond. (1995). Sistem Informasi Manajemen. New Jersey:
PrnticeHall, Inc.
McLeod, Raymond. (2001). Management Information System. Alih bahasa Hendra
Teguh. Jakarta : PT.Prenhallindo.
McLeod, Jr., R. (1996). Sistem Informasi Manajemen. Edisi Bahasa Indonesia
Jilid I. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.
Muhammad Ridha Suaib. (2008). Pengaruh Lingkungan, Perilaku, Struktur
Organisasi dan Implementasi Sistem Informasi Berbasis Komputer terhadap Kinerja
Karyawan Pemerintah Kabupaten Sorong, Papua. Jurnal Aplikasi Manajemen, Volume
6, (Nomor I).
Moekijat. (2005). Pengantar Sistem Informasi Manajemen. Bandung: CV. Mandar
Manju.
Moh, Najir. (2003). Metode Penelitian. Jakarta : Ghalia Indonesia. Mulyadi.
(2008). Sistem Akuntansi. Jakarta: Salemba Empat.
Murdick, Robert J. (1993). Sistem Informasi Manajemen Modern. Jakarta:
Erlangga. Nagappan, Nachiappan., Murphy, Brendan, Basili ,
Victor R. (2009). The influence of Organizational structure on Soft-ware
Quality : an Empirical Case Study Ieeexplore.ieee.org/iel5/481410. Nor,
Wahyudin. (2007). Desentralisasi Dan Gaya Kepemimpinan Sebagai Variabel
Moderating Dalam Hubungan Antara Partisipasi Penyusunan Anggaran Dan Kinerja
Manajerial. Simposium Nasional Akuntansi X . Makasar. Pp. 1 – 27.
Nur Ilavi Hudijani, (2007). Memacu Penerimaan Lewat Modernisasi Perpajakan.
Diakses pada 25 Oktober 2007 dari World Wide Web : suaramerdeka.com
Nur Indriantoro. (2002). Metodologi Penelitian Bisnis. Cetakan. Kedua.
Yogyakara: BFEE UGM. O’Brien, J.A. & Marakas, G.M.M. (2010). Management
Information Systems (10thed.). Boston: McGraw-Hill Irwin.
Pancawati. (1997). Peranan Sistem Informasi Akuntansi dan System Informasi
Manajemen Dalam Pengambilan Keputusan. Jurnal Gema Stikubank. 54-63.
Prabu Kresna. (2012). Modernisasi Sistem Penerimaan Negara. Diakses pada 10
Oktober, 2011 dari World Wide Web: http://wartapajak.com/index.php/8-bincangringan/regulasi?start=260
Ria Arifianti (2009). Peranan Sistem Informasi Manajemen dalam Pengambilan
Keputusan Seorang Manajer. Modul Ajar, Universitas Marcubuana.
Richard M. Steers. (1985). Eviktivitas Organisasi: kajian Prilaku
(Alibahasa M. Jamin). Jakarta: Erlagga.
Robbins & Coulter. (2007). Manajemen. Jakarta : Indeks. Robbins, P.
Stephen &Judge, A. (2007). Organizational Behaviour. 12nd edition. New
Jersey: Upper Saddle River. Robbins, P Stephen. Diterjemakan olhe Tim Index.
(2006). Prilaku Organisasi. jilid II, Edisi 10. Jakarta: Gramedia. Robbins, P
Stephen. (1990). OrganizationTheory structure, Design and
Iklan
Tidak ada komentar:
Posting Komentar