PERSELISIHANKU
DENGAN IRVAN
Waktu itu sekitar bulan Agustus menjelang hari
kemerdekaan tiba. Tidak hanya di rumah atau di sekolah-sekolah lain, SMP ku
juga mengadakan lomba-lomba memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus mulai dari
lomba-lomba kecil hingga lomba yang berskala besar karena diikuti banyak
peserta dan memerlukan persiapan khusus. Ialah LKBB (Lomba Ketangkasan Baris
Berbaris) yang pesertanya adalah masing-masing kelas. Aku sekelas dengan
temanku yang bernama Irvan. Kelas kami kelas VII-2 salah satu peserta lomba
LKBB tersebut, ya...waktu itu tahun ajaran baru dan aku baru duduk di kelas 7.
Hari H semakin dekat, kami berlatih semaksimal
mungkin agar kemenangan berpihak kepada kelas kami. Di tengah terik matahari
yang menyengat kami ditemani Bu Eni, wali kelas kami berlatih di tengah
lapangan bola milik sekolah kami disana juga banyak kelas-kelas lain yang
sedang berlatih didampingi dengan wali kelas mereka masing-masing.
Setelah sekian lama berlatih Bu Eni
menyarankan agar kami beristirahat terlebih dahulu di dalam kelas, kamipun
setuju dan kembali ke kelas dengan keringat yang bercucuran. Setibanya di kelas
kami bukannya beristirahat justru kami bermain di dalam kelas, namun aneh
bukannya semakin capek justru rasa capek itu berangsur hilang ya...mungkin
karena kebersamaan yang kita lakukan sehingga rasa capek seperti apapun seperti
tidak terasa. Kami bermain macam-macam permainan. Saat sedang bermain tiba-tiba
terdengar suara “breek” seperti celana yang robek. Kamipun saling bertanya satu
sama lain, “Celana siapa tu yang robek???”. Ternyata celana yang Irvan kenakan
robek. Mungkin karena masih terbawa sikap kanak-kanak dari sekolah dasar, kami
menganggap itu sangat lucu. Sontak kami sekelas pun menertawai Irvan, “Ahahahahaha”
“Ahahahahaha” “Ahahahahaha”. Irvan hanya tertunduk malu dan diam. Tidak berhenti
sampai disitu teman-teman kelasku malah ingin melihat celana irvan yang robek,
“mana? Gua pengen liat, mana, mana???” pinta mereka. Irvan pun hanya tertunduk
malu dan membiarkan mereka melihat celananya yang robek itu. Aku tidak ikut, hanya
tertawa di belakang. Setelah mereka melihat celana Irvan yang sobek, tiba-tiba
ada salah satu temanku berkata kepadaku, “Gung, masa lu gamau liat? Itu kocak
si Irvan gendut celananya robek, wkwkwkwk”. Akhirnya akupun tergoda dan menghampiri
Irvan untuk melihat celananya yang robek. Aku bertanya kepada Irvan dengan nada
pelan, “Kok bisa sobek, coba liat mana yang sobek??”. Bukan jawaban yang aku
terima malah tamparan yang keras ke wajahku dan dia berkata, “Ngapain lu
liat-liat?!”. Menerima respon yang seperti itu emosikupun meluap dan membalas
perlakuan Irvan tadi. Aku reflek mengambil bangku yang berada di sekitarku lalu
aku hantamkan ke kepalanya dengan keras, “buuggg” suara keras bangku itu
terdengar di dalam ruangan kelas. Suasana lucu berubah menjadi dramatis
kemudian aku dipisahkan oleh teman-temanku, di saat aku sedang menghantam- hantamkan
bangku itu ke kepalanya , aku mendengar salah satu temanku berkata, “Udah Gung
udah sabar!!”. Akhirnya aku menghentikan hantaman itu ke kepalanya dan terlihat
Irvan terjatuh dan menangis. Karena keributan itu guru BK menghampiri kami dan
membawa kami ke ruang BK. Sampai di ruang BK kami ditanya oleh Pak eru, guru BK
tersebut tetapi kami tidak menjawab, Pak eru pun lantas bertanya kepada Irvan,
“Coba jelaskan pada bapak apa yang sebenarnya terjadi?”. Irvan tidak menjawab
karena masih menangis. Aku pun berinisiatif menjawab pertanyaan Pak eru dan
menjelaskannya. Setelah suasana dirasa sudah lebih tenang kami pun didamaikan.
Akhirnya kami pun berdamai. Ternyata sewaktu kami disidang di ruang BK,
anak-anak yang lain sudah mulai berlatih kembali namun berpindah tempat yang
tadinya di lapangan menjadi di tempat parkir motor dekat kolam renang. Akhirnya
kami pun berjalan bersama menuju tempat
parkir motor dekat kolam renang tersebut dan melanjutkan latihan.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar