Selasa, 09 Juni 2015

PERSELISIHANKU DENGAN IRVAN



PERSELISIHANKU DENGAN IRVAN


Waktu itu sekitar bulan Agustus menjelang hari kemerdekaan tiba. Tidak hanya di rumah atau di sekolah-sekolah lain, SMP ku juga mengadakan lomba-lomba memperingati hari kemerdekaan 17 Agustus mulai dari lomba-lomba kecil hingga lomba yang berskala besar karena diikuti banyak peserta dan memerlukan persiapan khusus. Ialah LKBB (Lomba Ketangkasan Baris Berbaris) yang pesertanya adalah masing-masing kelas. Aku sekelas dengan temanku yang bernama Irvan. Kelas kami kelas VII-2 salah satu peserta lomba LKBB tersebut, ya...waktu itu tahun ajaran baru dan aku baru duduk di kelas 7.

Hari H semakin dekat, kami berlatih semaksimal mungkin agar kemenangan berpihak kepada kelas kami. Di tengah terik matahari yang menyengat kami ditemani Bu Eni, wali kelas kami berlatih di tengah lapangan bola milik sekolah kami disana juga banyak kelas-kelas lain yang sedang berlatih didampingi dengan wali kelas mereka masing-masing.

Setelah sekian lama berlatih Bu Eni menyarankan agar kami beristirahat terlebih dahulu di dalam kelas, kamipun setuju dan kembali ke kelas dengan keringat yang bercucuran. Setibanya di kelas kami bukannya beristirahat justru kami bermain di dalam kelas, namun aneh bukannya semakin capek justru rasa capek itu berangsur hilang ya...mungkin karena kebersamaan yang kita lakukan sehingga rasa capek seperti apapun seperti tidak terasa. Kami bermain macam-macam permainan. Saat sedang bermain tiba-tiba terdengar suara “breek” seperti celana yang robek. Kamipun saling bertanya satu sama lain, “Celana siapa tu yang robek???”. Ternyata celana yang Irvan kenakan robek. Mungkin karena masih terbawa sikap kanak-kanak dari sekolah dasar, kami menganggap itu sangat lucu. Sontak kami sekelas pun menertawai Irvan, “Ahahahahaha” “Ahahahahaha” “Ahahahahaha”. Irvan hanya tertunduk malu dan diam. Tidak berhenti sampai disitu teman-teman kelasku malah ingin melihat celana irvan yang robek, “mana? Gua pengen liat, mana, mana???” pinta mereka. Irvan pun hanya tertunduk malu dan membiarkan mereka melihat celananya yang robek itu. Aku tidak ikut, hanya tertawa di belakang. Setelah mereka melihat celana Irvan yang sobek, tiba-tiba ada salah satu temanku berkata kepadaku, “Gung, masa lu gamau liat? Itu kocak si Irvan gendut celananya robek, wkwkwkwk”. Akhirnya akupun tergoda dan menghampiri Irvan untuk melihat celananya yang robek. Aku bertanya kepada Irvan dengan nada pelan, “Kok bisa sobek, coba liat mana yang sobek??”. Bukan jawaban yang aku terima malah tamparan yang keras ke wajahku dan dia berkata, “Ngapain lu liat-liat?!”. Menerima respon yang seperti itu emosikupun meluap dan membalas perlakuan Irvan tadi. Aku reflek mengambil bangku yang berada di sekitarku lalu aku hantamkan ke kepalanya dengan keras, “buuggg” suara keras bangku itu terdengar di dalam ruangan kelas. Suasana lucu berubah menjadi dramatis kemudian aku dipisahkan oleh teman-temanku, di saat aku sedang menghantam- hantamkan bangku itu ke kepalanya , aku mendengar salah satu temanku berkata, “Udah Gung udah sabar!!”. Akhirnya aku menghentikan hantaman itu ke kepalanya dan terlihat Irvan terjatuh dan menangis. Karena keributan itu guru BK menghampiri kami dan membawa kami ke ruang BK. Sampai di ruang BK kami ditanya oleh Pak eru, guru BK tersebut tetapi kami tidak menjawab, Pak eru pun lantas bertanya kepada Irvan, “Coba jelaskan pada bapak apa yang sebenarnya terjadi?”. Irvan tidak menjawab karena masih menangis. Aku pun berinisiatif menjawab pertanyaan Pak eru dan menjelaskannya. Setelah suasana dirasa sudah lebih tenang kami pun didamaikan. Akhirnya kami pun berdamai. Ternyata sewaktu kami disidang di ruang BK, anak-anak yang lain sudah mulai berlatih kembali namun berpindah tempat yang tadinya di lapangan menjadi di tempat parkir motor dekat kolam renang. Akhirnya kami pun berjalan bersama menuju  tempat parkir motor dekat kolam renang tersebut dan melanjutkan latihan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar