1.1 LATAR BELAKANG
Setiap
perusahaan selalu berusaha meningkatkan produktivitas karyawannya agar dapat
bertahan, berkembang serta memiliki kepercayaan yang tinggi dari pihak luar
perusahaan. Demi meningkatkan produktivitas karyawan, maka sering dilakukan
pembenahan dan peningkatan sumber daya manusia dari karyawan.
Di era globalisasi dan perekonomian dunia yang pro pasar bebas (free market) dewasa ini, mulai tampak semakin jelas bahwa peranan non-human capital di dalam sistem perekonomian cenderung semakin berkurang. Para stakeholder yang bekerja di dalam sistem perekonomian semakin yakin bahwa modal tidak hanya berwujud alat-alat produksi seperti tanah, pabrik, alat-alat, dan mesin-mesin, akan tetapi juga berupa human capital. Sistem perekonomian dewasa ini mulai didominasi oleh peranan human capital, yaitu ‘pengetahuan’ dan ‘ketrampilan’ manusia.
Namun seringkali kegiatan peningkatan sumber daya manusia dari karyawan tidak mencapai hal yang diharapkan yaitu tercapainya tujuan dari organisasi perusahaan tersebut seperti peningkatan produktivitas kerja karyawan. Meskipun telah memiliki sumber daya yang berkualitas, karyawan belum tentu dapat memberikan hasil kerja yang baik bagi organisasi perusahaan apabila mereka masih berada dalam belenggu budaya kerja yang kurang mendukung dan tidak kondusif. Karyawan akan larut dalam budaya organisasi perusahaan yang tidak mendukung terhadap tujuan organisasi perusahaan yaitu melenceng dari nilai-nilai organisasi perusahaan.
Produktivitas karyawan ditentukan oleh keberhasilan budaya organisasi perusahaan (corporate culture) yang dimilikinya. Keberhasilan mengelola organisasi tidak lagi hanya ditentukan oleh keberhasilan prinsip-prinsip manajemen seperti planning, organizing, leading, controlling; akan tetapi ada faktor lain yang lebih menentukan keberhasilan peusahaan mencapai tujuannya. Faktor tersebut adalah budaya organisasi perusahaan (corporate culture). Budaya organisasi perusahaan dapat membantu penerapan manajemen dengan baik.
Budaya perusahaan secara realistis mempengaruhi produktivitas kerja karyawan. Kesadaran pemimpin perusahaan ataupun karyawan terhadap pengaruh budaya organisasi perusahaan dapat memberikan semangat yang kuat untuk mempertahankan, memelihara, dan mengembangkan budaya organisasi perusahaan tersebut yang merupakan daya dorong yang kuat untuk kemajuan organisasi perusahaan.
Di era globalisasi dan perekonomian dunia yang pro pasar bebas (free market) dewasa ini, mulai tampak semakin jelas bahwa peranan non-human capital di dalam sistem perekonomian cenderung semakin berkurang. Para stakeholder yang bekerja di dalam sistem perekonomian semakin yakin bahwa modal tidak hanya berwujud alat-alat produksi seperti tanah, pabrik, alat-alat, dan mesin-mesin, akan tetapi juga berupa human capital. Sistem perekonomian dewasa ini mulai didominasi oleh peranan human capital, yaitu ‘pengetahuan’ dan ‘ketrampilan’ manusia.
Namun seringkali kegiatan peningkatan sumber daya manusia dari karyawan tidak mencapai hal yang diharapkan yaitu tercapainya tujuan dari organisasi perusahaan tersebut seperti peningkatan produktivitas kerja karyawan. Meskipun telah memiliki sumber daya yang berkualitas, karyawan belum tentu dapat memberikan hasil kerja yang baik bagi organisasi perusahaan apabila mereka masih berada dalam belenggu budaya kerja yang kurang mendukung dan tidak kondusif. Karyawan akan larut dalam budaya organisasi perusahaan yang tidak mendukung terhadap tujuan organisasi perusahaan yaitu melenceng dari nilai-nilai organisasi perusahaan.
Produktivitas karyawan ditentukan oleh keberhasilan budaya organisasi perusahaan (corporate culture) yang dimilikinya. Keberhasilan mengelola organisasi tidak lagi hanya ditentukan oleh keberhasilan prinsip-prinsip manajemen seperti planning, organizing, leading, controlling; akan tetapi ada faktor lain yang lebih menentukan keberhasilan peusahaan mencapai tujuannya. Faktor tersebut adalah budaya organisasi perusahaan (corporate culture). Budaya organisasi perusahaan dapat membantu penerapan manajemen dengan baik.
Budaya perusahaan secara realistis mempengaruhi produktivitas kerja karyawan. Kesadaran pemimpin perusahaan ataupun karyawan terhadap pengaruh budaya organisasi perusahaan dapat memberikan semangat yang kuat untuk mempertahankan, memelihara, dan mengembangkan budaya organisasi perusahaan tersebut yang merupakan daya dorong yang kuat untuk kemajuan organisasi perusahaan.
1.2 PENGERTIAN PRODUKTIVITAS KERJA
Produktivitas
kerja merupakan suatu konsep yang menunjukkan adanya kaitan output dengan input
yang dibutuhkan seorang tenaga kerja untuk menghasilkan produk. Pengukuran
produktivitas dilakukan dengan melihat jumlah output yang dihasilkan oleh
setiap pegawai selama sebulan. Seorang pegawai dapat dikatakan produktiv
apabila ia mampu menghasilkan jumlah produk yang lebih banyak dibandingkan
dengan pegawai lain dalam waktu yang sama ( J. Ravianto, 1986 ).
Dapat
dikatakan bahwa produktivitas adalah perbandingan antara hasil dari suatu
pekerjaan karyawan dengan pengorbanan yang telah dikeluarkan. Hal ini sesuai
dengan pendapat Sondang P. Siagian bahwa produktivitas adalah “Kemampuan
memperoleh manfaat yang sebesar-besarnya dari sarana dan prasarana yang
tersedia dengan menghasilkan output yang optimal bahkan kalau mungkin yang
maksimal”. Menurut Komarudin, “produktivitas pada hakekatnya meliputi sikap
yang senantiasa mempunyai pandangan bahwa metode kerja hari ini harus lebih
baik dari metode kerja kemarin dan hasil yang dapat diraih esok harus lebih
banyak atau lebih bermutu daripada hasil yang diraih hari ini”
(Komarudin,1992).
1. Faktor Yang Mempengaruhi
Produktivitas Kerja
Sjahmien
Moellfi (2003) menyatakan ada 3 faktor yang mempengaruhi produktivitas
yaitu :
A. Beban kerja
Berhubungan langsung dengan beban fisik,
mental maupun sosial yang mempengaruhi tenaga kerja sehingga upaya penempatan
pekerja yang sesuai dengan kemampuannya perlu diperhatikan.
B. Kapasitas kerja
Kapasitas kerja adalah kemampuan
seseorang untuk menyelesaikan pekerjaannya pada waktu tertentu. Kapasitas
kerja sangat bergantung pada jenis kelamin, pendidikan, ketrampilan, usia
dan status gizi.
C. Beban tambahan akibat lingkungan kerja
Lingkungan
kerja yang buruk akan memberikan dampak yang buruk juga berupa penurunan produktivitas
kerja, antara lain:
Faktor
fisik seperti panas, iklim kerja, kebisingan, pencahayaan, dangetaran.
Faktor
kimia seperti bahan- bahan kimia, gas, uap, kabut, debu, partikel.
Faktor
biologis seperti penyakit yang disebabkan infeksi, jamur, virus,
dan parasit.
Fisiologis,
letak kesesuaian ukuran tubuh tenaga kerja dengan peralatan, beban kerja,
posisi dan cara kerja yang akan mempengaruhi produktivitas kerja.
Faktor
psikologis, berupa kesesuaian antara hubungan kerja antar karyawan
sendiri, karyawan atasan, suasana kerja yang kurang baik serta pekerjaan
yang monoton.
1.4 PENGERTIAN BUDAYA ORGANISASI PERUSAHAAN
(CORPORATE CULTURE)
Dalam
kehidupan masyarakat sehari-hari tidak terlepas dari ikatan budaya yang
diciptakan. Ikatan budaya tercipta oleh masyarakat yang bersangkutan, baik
dalam keluarga, organisasi, bisnis maupun bangsa. Budaya membedakan masyarakat
satu dengan yang lain dalam cara berinteraksi dan bertindak menyelesaikan suatu
pekerjaan. Budaya mengikat anggota kelompok masyarakat menjadi satu
kesatuan pandangan yang menciptakan keseragaman berperilaku atau bertindak.
Seiring dengan bergulirnya waktu, budaya pasti terbentuk dalam organisasi dan
dapat pula dirasakan manfaatnya dalam memberi kontribusi bagi efektivitas
organisasi secara keseluruhan. Budaya organisasi berkaitan erat dengan
pemeberdayaan karyawan (employee empowerement) disuatu perusahaan. Semakin kuat
budaya organisasi, semakin besar dorongan para karyawan untuk maju bersama
dengan perusahaan. Berdasarkan hal tersebut, pengenalan, penciptaan, dan
pengembangan budaya organisasi dalam suatu perusahaan mutlak diperlukan dalam
rangka membangun perusahaan yang efektif dan efisien sesuai dengan misi
dan visi yang hendak dicapai. Dengan demikian antara budaya organisasi dan
budaya perusahaan saling terkait karena kedua-keduanya ada kesamaan, meskipun
dalam budaya perusahaan terdapat hal-hal khusus seperi gaya manajemen dan
sistem manajemen dan sebagainya, namun semuanya masih tetap dalam rangkaian
budaya organisasi Budaya perusahaan adalah aturan main yang ada dalam
perusahaan yang akan menjadi pegangan dari SDMnya dalam menjalankan
kewajibannya dan nilai-nilai untuk berprilaku di dalam organisasi tersebut.
Ciri-ciri
Budaya Organisasi
Menurut Robbins (1996), ada 7 ciri-ciri budaya organisasi adalah:
1. Inovasi dan pengambilan resiko. Sejauh mana karyawan didukung untuk menjadi inovatif dan mengambil resiko.
2. Perhatian terhadap detail. Sejauh mana karyawan diharapkan menunjukkan kecermatan, analisis dan perhatian terhadap detail.
3. Orientasi hasil. Sejauh mana manajemen memfokus pada hasil bukannya pada teknik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut.
4. Orientasi orang. Sejauh mana keputusan manajemen memperhitungkan efek pada orang-orang di dalam organisasi itu.
5. Orientasi tim. Sejauh mana kegiatan kerja diorganisasikan sekitar tim-tim, bukannya individu.
6. Keagresifan. Berkaitan dengan agresivitas karyawan.
7. Kemantapan. Organisasi menekankan dipertahankannya budaya organisasi yang sudah baik.
Dengan menilai organisasi itu berdasarkan tujuh karakteristik ini, akan diperoleh gambaran majemuk dari budaya organisasi itu. Gambaran ini menjadi dasar untuk perasaan pemahaman bersama yang dimiliki para anggota mengenai organisasi itu, bagaimana urusan diselesaikan di dalamnya, dan cara para anggota berperilaku (Robbins, 1996).
Menurut Robbins (1996), ada 7 ciri-ciri budaya organisasi adalah:
1. Inovasi dan pengambilan resiko. Sejauh mana karyawan didukung untuk menjadi inovatif dan mengambil resiko.
2. Perhatian terhadap detail. Sejauh mana karyawan diharapkan menunjukkan kecermatan, analisis dan perhatian terhadap detail.
3. Orientasi hasil. Sejauh mana manajemen memfokus pada hasil bukannya pada teknik dan proses yang digunakan untuk mencapai hasil tersebut.
4. Orientasi orang. Sejauh mana keputusan manajemen memperhitungkan efek pada orang-orang di dalam organisasi itu.
5. Orientasi tim. Sejauh mana kegiatan kerja diorganisasikan sekitar tim-tim, bukannya individu.
6. Keagresifan. Berkaitan dengan agresivitas karyawan.
7. Kemantapan. Organisasi menekankan dipertahankannya budaya organisasi yang sudah baik.
Dengan menilai organisasi itu berdasarkan tujuh karakteristik ini, akan diperoleh gambaran majemuk dari budaya organisasi itu. Gambaran ini menjadi dasar untuk perasaan pemahaman bersama yang dimiliki para anggota mengenai organisasi itu, bagaimana urusan diselesaikan di dalamnya, dan cara para anggota berperilaku (Robbins, 1996).
Fungsi
Budaya Organisasi
Menurut Robbins (1996), fungsi budaya organisasi sebagai berikut :
a. Budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dan yang lain.
b. Budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi.
c. Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri individual seseorang.
d. Budaya merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang tepat untuk dilakukan oleh karyawan.
e. Budaya sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku karyawan.
Menurut Robbins (1996), fungsi budaya organisasi sebagai berikut :
a. Budaya menciptakan pembedaan yang jelas antara satu organisasi dan yang lain.
b. Budaya membawa suatu rasa identitas bagi anggota-anggota organisasi.
c. Budaya mempermudah timbulnya komitmen pada sesuatu yang lebih luas daripada kepentingan diri individual seseorang.
d. Budaya merupakan perekat sosial yang membantu mempersatukan organisasi itu dengan memberikan standar-standar yang tepat untuk dilakukan oleh karyawan.
e. Budaya sebagai mekanisme pembuat makna dan kendali yang memandu dan membentuk sikap serta perilaku karyawan.
1.5 PENGARUH BUDAYA ORGANISASI TERHADAP
PRODUKTIVITAS KERJA KARYAWAN
Budaya
organisasi merupakan faktor yang sangat penting di dalam organisasi sehingga
efektivitas organisasi dapat ditingkatkan dengan menciptakan budaya yang tepat
dan dapat mendukung tercapainya tujuan organisasi. Pengaruh pemanfaatan budaya
perusahaan adalah salah satu solusi dalam menghadapi tantangan yang kian
kompleks. Bila budaya organisasi telah disepakati sebagai sebuah strategi
perusahaan maka budaya organisasi dapat dijadikan alat untuk meningkatkan
kinerja.
Dengan
adanya pemberdayaan budaya organisasi selain akan menghasilkan sumber daya
manusia yang berkualitas, juga akan menjadi penentu sukses perusahaan. Sehingga
budaya organisasi memiliki dampak yang berarti terhadap kinerja karyawan yang
menentukan keberhasilan dan kegagalan perusahaan. Sedangkan kinerja merupakan
peranan yang sangat penting, karena tanpanya organisasi hanya merupakan
sekumpulan aktivitas tanpa tujuan atau control tertentu. Budaya organisasi
dipahami sebagai seperangkat nilai, kepercayaan, dan pemahaman yang penting
sama – sama dimiliki oleh para anggota yang berpengaruh terhadap pola kerja
serta pola manajemen organisasi.
Secara
teoritis budaya organisasi berpengaruh terhadap kinerja karyawan, kinerja dalam
hal ini diartikan sebagai suatu tingkat proses yang dirancang untuk
menghubungkan tujuan organisasi dan tujuan individu sedemikian rupa, sehingga
baik tujuan individu maupun tujuan organisasi dapat bertemu. Sedangkan kepuasan
kerja dalam penelitian ini dianggap sebagai variabel yang sangat penting dalam
hubungan dengan budaya organisasi, oleh karena itu kepuasan kerja diartikan
sebagai cermin perasaan seseorang terhadap pekerjaannya mengenai selisih antara
banyaknya ganjaran yang diterima dan banyaknya yang diyakini seharusnya
diterima, serta segala sesuatu yang dihadapi dalam lingkungan kerja.
Kondisi
Ekonomi, Politik, Sosial Singapura
Singapura
merupakan salah satu negara anggota ASEAN yang terletak di Semenanjung Malaya.
Singapura dibatasi oleh Selat Johor di sebelah utara yang memisahkannya dengan
Malaysia, dan Selat Singapura di sebelah selatan yang membatasinya dengan
Kepulauan Riau, Indonesia. Singapura merupakan negara bekas jajahan Inggris dan
oleh karena itu, Singapura menggunakan bahasa Inggris sebagai bahasa
mayoritasnya. Walaupun demikian, Singapura tetap menggunakan bahasa Melayu
sebagai bahasa ibu atau bahasa nasionalnya. Singapura yang terletak di kawasan
rumpun Melayu, kebanyakan warga negaranya malah merupakan masyarakat asing,
terutama etnis Tionghoa, yang jumlahnya mencapai 42% dari jumlah total warga
Singapura. Singapura dengan kondisi geografinya sebagai negara kecil yang
bertempatan diantara Indonesia dan Malaysia ini memiliki potensial soft
power (ekonomi maupun industri) yang sangat kuat bila dibandingkan dengan
negara-negara di Asia Tenggara lainnya. Dari segi demografi atau penduduk yang
berdomisili di Singapura, mayoritas merupakan etnis Cina yang kemudian diikuti
oleh etnis Melayu. Kondisi perpolitikan Singapura mengadopsi sistem Westminster
(seperti di Inggris), yang mana kekuasaan berdaulat terletak pada kabinet dan
dipimpin oleh Perdana Menteri. Tatkala Singapura adalah negara berbentuk
republik perlementer dan telah menetapkan perwakilan demokrasi sebagai sistem
politik negara (Asean News
Network, t.t).
Sejarah
Singapura dimulai sejak tahun 1819 yakni ketika Sir Stamford Raffles
berkebangsaan Inggris yang memimpin British East India Company datang
ke wilayah ini serta mendirikan sebuah tempat perdagangan di pulau yang
menjadikan Singapura sebagai pulau komersial paling makmur di tahun ini. Sejak
itu pada tahun 1825 Singapura berkembang pesat ditambah sejak pembukaan terusan
Suez tahun 1869, Singapura muncul sebagai negara yang sangat diperhitungkan di
Asia Tenggara. Pada tahun 1965 Singapura telah menjadi negara yang independen
dan kemudian bergabung dalam persemakmuran bangsa Inggris, yang sebelumnya
masih menjadi bagian Federasi Malaysia pada tahun 1963 (Cahyadi, et al.
2004, 2-3). Mengingat asal-usul kemerdekaan Singapura yang sebelumnya menjadi
persemakmuran Malaysia (sekalipun Malaysia tidak sepenuhnya menerima keberadaan
Singapura) Partai Gerakan Rakyat (PAP) mendominasi persoalan mendasar bagi para
pemimpin Singapura, yang mana hal ini dibentuk oleh Lee Kuan Yew dalam
menjadikan PAP sebagai partai tunggal. Rejim PAP melihat bahwasannya politik
dalam negeri merupakan persoalan dasar bagi kelangsungan negar-kota Singapura,
hal ini juga diimplementasi dalam setiap pemilu dari tahun 1959-1997 (Cipto
2007, 132-133).
Berbicara
mengenai kemajuan Singapura, aspek yang menarik tentang negara ini adalah
karakter budaya penduduknya yang kosmopolitan, hal ini menjadi keuntungan
tersendiri bagi Singapura. Sebagai negara yang populer akan komersialnya yang
dibangun oleh Raffles, para imigran banyak datang dan membawa budaya, bahasa,
adat istiadat, serta kebiasaan mereka ke Singapura. Perkawinan silang dan
perpaduan budaya turut berperan dalam mempengaruhi keragaman budaya yang
kemudian berbentuk kedalam masyarakat Singapura dari berbagi aspek, sehingga
menjadikan warisan budaya yang beragam dan dinamis. Sebagian besar kaum Melayu Singapura
adalah Muslim Sunni yang memeluk Islam sebagai agama mereka, salah satu
peninggalan budaya mereka yakni Masjid Jamae Chulia yakni dengan gaya
arsitektur eklektik serta gerbang masuk yang bergaya India Selatan dan kedua
ruang salatnya bergaya neo-klasik (www.yoursingapore.com).
Singapura
menganut sistem pemerintahan republik parlementer, dimana seluruh menteri
bertanggung jawab terhadap parlemen. Presiden hanya sebagai wujud simbolis,
sedangkan kekuasaan berada di tangan Perdana Menteri dan Perdana Menteri
memegang kedudukan mayoritas di parlemen. Dalam bidang politik, Singapura
dikuasai oleh sebuah partai mayoritas yang disebut Partai Aksi Rakyat (PAP)
(Anon, t.t, dalam www.freedomhouse.org, diakses pada 31 Maret 2014). Pada
prakteknya, PAP ini cenderung bersifat otoriter dibanding demokratis. PAP tidak
mengizinkan adanya partai oposisi, walaupun partai tersebut dianggap bekerja
secara efektif untuk kemajuan negara. Akan tetapi, dengan kinerja PAP yang otoriter
tersebut, Singapura dapat berkembang menjadi negara yang maju. Hal itu dapat
dilihat dari rendahnya tingkat korupsi di Singapura. Selain itu, Singapura juga
dinilai sebagai negara hunian yang nyaman karena sistem pemerintahannya yang
fokus pada kesejahteraan rakyat dan penyediaan sarana yang memadai.
Singapura,
yang merupakan bekas jajahan Inggris, sejak awal memang sudah dikonstruksikan
sebagai negara pusat ekonomi oleh penjajahnya. Inggris, pada masa itu,
membangun infrastruktur yang dibutuhkan demi mencapai kemajuan Singapura. Tidak
heran jika Singapura dapat menunjukkan pertumbuhan ekonomi yang pesat.
Perekonomian Singapura bergantung pada ekspor dan impor, khususnya di
bidang manufaktur. Kondisi politik dan keamanan yang stabil menyebabkan Singapura
menjadi tujuan investasi bagi banyak negara. Untuk mendukung pertumbuhan
ekonomi tersebut, Singapura juga memutuskan untuk member izin atas dibukanya
tempat perjudian dan resor kasino sejak tahun 2005 (Anon, t.t, dalam
www.mti.gov.sg diakses pada 31 Maret 2014). Dengan segala perkembangan
tersebut, Singapura disebut sebagai negara yang paling terglobalisasi dalam
Indeks Globalisasi tahun 2006 (Kearney, t.t).
Singapura
memiliki pasukan militer yang paling maju di kawasan Asia Tenggara. Pasukan
militer tersebut dibuat untuk mencegah adanya serangan dan memberikan bantuan
kemanusiaan ke negara lain. Di Singapura, pria di bawah usia 18 tahun wajib
mengikuti National Service selama minimal 2 tahun untuk pelatihan
militer yang kemudian diarahkan sebagai serdadu cadangan. Selain itu, Singapura
juga tergabung dalam FPDA (Five Power Defence Arrangements), yaitu suatu
hubungan pertahanan antara Singapura, Inggris, Australia, Selandia Baru, dan
Malaysia, melalui persetujuan multilateral. Walaupun Singapura memiliki
pertahanan militer yang baik, Singapura juga fokus pada pertahanan non-militer
karena adanya terorisme dan perang non-konvensional.
Dalam
perkembangannya, Singapura juga menjalin hubungan diplomatik dengan
negara-negara di ASEAN, misalnya saja Indonesia dan Malaysia. Hal itu
dikarenakan adanya faktor kedekatan wilayah antara ketiga negara tersebut. Akan
tetapi, kerap muncul konflik antarnegara tersebut karena adanya pertentangan
politik. Selain itu, Singapura juga berhubungan dekat dengan Brunei Darussalam,
dimana Singapura memiliki tempat pelatihan angkatan darat di sana. Tidak hanya
di kawasan ASEAN, Singapura juga menjalin hubungan baik dengan negara lain di
luar kawasan Asia Tenggara, contohnya China. Kerjasama Singapura dan China
dimulai sejak tahun 1990, walaupun Singapura sudah mulai membuka diri pada
China sejak tahun 1978. China, yang menganut kebijakan pragmatis, menganggap
Singapura memiliki wilayah yang strategis dan infrastruktur yang baik sehingga
sangat bagus untuk peluang bisnis. Sedangkan Singapura menganggap China sebagai
pasar yang baik untuk Singapura karena modernisasi yang dilakukan oleh China.
Salah satu contoh kerjasama kedua negara tersebut adalah Suzhou Industrial Park
yang merupakan taman industri internasional dengan teknologi tinggi.
Singapura
memang memiliki sejarah kerjasama yang baik dengan negara-negara lain. Akan
tetapi, hal itu tidak lantas menghilangkan konflik antara Singapura dengan yang
lain. Misalnya saja yang baru-baru ini terjadi adalah konflik Singapura dengan
Indonesia atas penamaan KRI Usman Harun. Pengambilan nama tersebut dianggap
tidak membuka luka lama Singapura. Usman dan Harun merupakan pahlawan Indonesia
yang pada tahun 1965 melakukan pemboman terhadap perkantoran Singapura. Konflik
yang menimbulkan korban jiwa tersebut membuat Singapura menganggap kedua
marinir itu sebagai teroris.Hal itulah yang mendasari penolakan Singapura atas
pemberian nama KRI Usman Harun (Anon, 2014, dalam nasional.news.viva.co.id,
diakses pada 31 Maret 2014).
Konflik
dengan Indonesia tidak sebatas dalam hal penamaan itu saja, melainkan juga
konflik perbatasan wilayah. Singapura dan Indonesia hanya dibatasi oleh Selat
Singapura. Dengan itu, Singapura selalu melakukan reklamasi pantai untuk
memperluas wilayahnya. Kemudian muncullah masalah ekspor pasir dari Riau dan
Singapura yang membuat pemerintah Indonesia akhirnya melarang ekspor tersebut.
Hal itu dilakukan karena pasir yang diekspor dari Riau ke Singapura digunakan
untuk reklamasi pantai dan sarana pengubah pembatas wilayah.Dilihat dari
geografinya, Singapura hanyalah sebuah negara kecil yang berada di Semenanjung
Malaka. Akan tetapi, karena adanya konstruksi peninggalan Inggris, Singapura
bangkit menjadi negara maju, yang bahkan sangat berperan dalam perekonomian
dunia. Kerjasama pun banyak dilakukan Singapura dengan negara-negara maju yang
lain untuk menambah kesejahteraan negaranya. Walaupun demikian, konflik tetap
tidak bisa dihindari antarnegara tersebut.
Etika
Bisnis di Singapura
Singapore
terus terpilih sebagai salah satu tempat bisnis yang paling mudah di dunia. Dan
juga merupakan tempat perpaduan dari budaya dan perdagangan, dan sebagai tempat
bisnis utama dari segala penjuru dunia. Singapore juga merupakan rumah bagi
empat bahasa nasional dan beberapa budaya yang berbeda, yang dipengaruhi oleh
tradisi dan pengaruh luar lainnya. Ketika menjalankan bisnis di Singapore,
pertemuan Anda mungkin akan lebih produktif jika mengetahui beberapa tips dan
wawasan mengenai etika.
Singapore
adalah sebuah negara kosmopolitan dan umumnya selalu mempertahankan standar
internasional dalam bisnis. Terdapat beberapa nuansa yang biasa digunakan oleh
orang Singapore dalam menjalankan bisnis. Yang paling utama adalah aturan
berpakaian. Negara ini terletak satu derajat agak ke utara dari garis katulistiwa
dan cuaca pada umumnya panas dan lembab, sehingga pakaian bisnis (baju dan
celana atau rok) tanpa jas atau blazer sudah cukup baik. Anda bahkan tidak
perlu menggunakan dasi jika pertemuan tersebut tidak sangat formal.
Dalam
pertemuan bisnis, ketika bertemu untuk pertama kalinya, berjabatan tangan sudah
cukup. Membungkuk sama sekali tidak diperlukan, kecuali diperlukan dalam budaya
tertentu. Jaga kontak tubuh dengan wajar dan tetap sisakan ruang pribadi antara
Anda dan lawan bicara Anda. Anda akan menemukan bahwa setelah berjabat tangan,
biasanya orang Melayu akan meletakkan sebelah telapak tangan di dada mereka.
Ini adalah salam budaya dan Anda tidak perlu melakukan hal yang sama jika Anda
bukan keturunan Melayu. Jika masih ragu-ragu, Anda hanya perlu berjabat tangan
dengan sopan dan berikan senyuman ramah.
Kartu
nama memiliki peranan yang penting di Singapore. Kartu nama dibutuhkan dalam
hampir semua pertemua pertama. Standar yang sopan dalam memberikan kartu nama
yaitu dengan kedua tangan, dengan tulisan pada kartu nama mengarah pada
penerima. Menerima kartu nama juga dilakukan dengan kedua tangan sebagai tanda
penghormatan. Ketika menerima kartu nama, akan lebih baik jika melihatnya
sebentar, dan memegangnya beberapa saat, kemudian meletakkannya di atas meja,
dengan tulisan menghadap ke atas selama pertemuan. Meskipun sebagian besar
orang tidak akan tersinggung jika kartu namanya langsung disimpan di kantong,
tetapi akan lebih baik jika bisa mengikuti prosesnya.
Di
beberapa kantor dan hampir setiap ruangan pribadi, Anda akan diminta untuk
melepas sepatu. Ini sangat wajar. Jika diminta, Anda cukup meletakkan sepatu
Anda di pintu. Berhati-hatilah dalam memberikan hadiah. Ketika Anda diundang
dalam acara sosial oleh rekan bisnis, cukup bagus jika membawa sebotol anggur
(atau, jika tuan rumah tidak mengkonsumsi alkohol karena agama, bawalah
coklat). Pemberian tip bukanlah suatu kebiasaan di Singapore, tetapi dihargai
di sini. Negara ini adalah penghubung global dan merupakan rumah bagi wisatawan
dari seluruh dunia. Tetap peka dalam berperilaku dan bertanyalah jika ragu,
maka perjalanan bisnis Anda akan menjadi lebih produktif.
